BATU BARA – Banjir besar yang melanda Provinsi Sumatera Utara dan provinsi lainnya dalam beberapa hari terakhir memicu dampak lanjutan yang semakin dirasakan masyarakat.
Salah satu yang paling signifikan adalah kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang telah berlangsung sejak dua hari terakhir.
Baca Juga: Pasokan BBM di Medan Aman, Kendala Distribusi Akibat Banjir Di hampir seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Utara, antrean panjang kendaraan di SPBU tidak lagi terlihat—bukan karena pasokan kembali normal, tetapi karena sebagian besar SPBU kehabisan stok BBM. Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Batu Bara.
Sejumlah SPBU di wilayah tersebut dilaporkan kosong sejak pagi hingga malam hari.Di Kecamatan Talawi dan Tanjung Tiram, masyarakat mengaku semakin cemas.
Saat diwawancarai wartawan bitvonline.com, beberapa warga menyampaikan bahwa jika hingga malam ini BBM tidak kunjung tersedia, maka aktivitas masyarakat diperkirakan akan lumpuh total."Kalau malam ini BBM belum ada, besok aktivitas masyarakat di Batu Bara pasti berhenti. Kami tak bisa bekerja, tak bisa berbelanja, tak bisa menjalankan usaha. Semuanya tergantung bahan bakar," ujar salah satu warga.
Masyarakat juga menyoroti dampak berantai dari kelangkaan BBM terhadap perekonomian daerah. Jika distribusi barang terhenti dan aktivitas transportasi terganggu, harga kebutuhan pokok diperkirakan melonjak. Bahkan kini, sebelum kondisi memburuk, kenaikan harga mulai terasa.
Dalam sepekan terakhir, harga cabai, bawang, dan berbagai jenis sayuran dilaporkan naik hampir 50 persen dari harga normal. Harga ayam potong pun melejit hingga mencapai Rp45.000 per kilogram.
Pedagang mengaku kesulitan mendapatkan pasokan karena jalur distribusi dari luar daerah terhambat banjir dan keterbatasan bahan bakar untuk kendaraan pengangkut.
"Kami berharap pemerintah segera turun tangan. Jangan sampai masyarakat menghadapi masalah baru ketika banjir saja belum sepenuhnya tertangani," kata warga lainnya.
Warga Batu Bara meminta pemerintah pusat dan daerah memastikan suplai BBM kembali normal, membuka akses distribusi yang tertutup banjir, serta melakukan pengawasan harga kebutuhan pokok. Mereka khawatir jika kondisi ini berlangsung lebih lama, krisis ekonomi di tingkat masyarakat kecil tidak bisa dihindari.*
(dh)