TAPANULI SELATAN — Dugaan penyebab banjir bandang yang meluluhlantakkan tiga desa di Batangtoru, Tapanuli Selatan, mulai mengerucut.
Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan, secara terbuka menyebut penebangan hutan di hulu Sungai Batangtoru sebagai salah satu pemicu utama bencana, selain cuaca ekstrem akibat badai siklon Senyar.
Pernyataan ini ia sampaikan saat meninjau lokasi terdampak di Garoga, Sabtu, 29 November 2025.
Baca Juga: Viral! Sembako Habis, Warga Tapteng Terpaksa Menjarah Minimarket "Penyebabnya karena ada penebangan hutan di hulu sungai," ujar Gus Irawan.
Menurut dia, kayu-kayu berukuran besar yang tampak berserakan pascabanjir bukan berasal dari pohon tumbang secara alami, melainkan hasil tebangan yang dibiarkan menumpuk.
Di tiga desa terdampak, Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol, jejak kerusakan ekologis terlihat jelas.
Ratusan batang kayu besar ditemukan tersangkut di pemukiman dan badan sungai. Beberapa bahkan menjadi penyebab jatuhnya korban jiwa.
Seorang warga Huta Godang, Silalahi, menguatkan dugaan itu.
Ia menyebut kayu-kayu yang terbawa arus memiliki ciri kayu tebangan: kulitnya hilang, warna memutih, dan sudah tidak layak pakai.
"Itu kayu bekas ditebang. Yang bagus sudah diangkut pakai mobil, yang jelek ditinggalkan. Saat banjir datang, ya semuanya terseret ke bawah," kata Silalahi kepada wartawan.
Gus Irawan mengungkapkan, Pemerintah Kabupaten Tapsel sebenarnya telah menyurati Kementerian Kehutanan sejak September 2025, menyampaikan keberatan atas aktivitas pembukaan hutan oleh sebuah perusahaan di wilayah Tapanuli Tengah.
Hasilnya, kegiatan sempat dihentikan oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari.