MAJENE — Ratusan siswa SD Negeri 16 Tanisi di Majene, Sulawesi Barat, masih harus belajar di bangunan sekolah yang nyaris ambruk.
Lima tahun setelah gempa bermagnitudo 6,2 mengguncang daerah itu pada Januari 2021, gedung sekolah belum juga diperbaiki.
Sebanyak 11 bangunan sekolah—terdiri atas delapan ruang kelas, perpustakaan, ruang guru, kantor, dan toilet—mengalami kerusakan parah.
Baca Juga: Pria di Mamuju Ditangkap Usai Diduga Perkosa Temannya di Kantor Pemkab Dinding beberapa ruang dipenuhi retakan, sementara sebagian bangunan telah roboh.
Salah satu ruang kelas, yakni kelas III, bahkan sudah tanpa dinding sehingga hanya menyisakan rangka dan atap.
Kondisi ini membuat 164 siswa terpaksa belajar dalam rasa waswas, terutama saat hujan atau angin kencang.
Kepala SDN 16 Tanisi, Nursaid, mengatakan keselamatan siswa dan guru menjadi kekhawatiran utama.
"Kalau cuaca buruk, para siswa biasanya kami pulangkan lebih awal. Kami khawatir gedung yang sudah lama retak-retak, bahkan sebagian ambruk, bisa runtuh sewaktu-waktu," ujar Nursaid.
Siswa dan guru kini hanya memanfaatkan ruang-ruang yang masih cukup utuh, meski tetap berisiko.
Aktivitas belajar sering terganggu karena ancaman cuaca dan kondisi bangunan yang rapuh.
Hingga kini, sekolah belum mendapat perbaikan struktural meski sudah berulang kali diusulkan.
Warga dan pihak sekolah berharap pemerintah daerah maupun pusat segera mengambil langkah karena kondisi bangunan dinilai sudah tidak layak untuk kegiatan belajar mengajar.