JAKARTA — Sebanyak 11 korban ledakan di SMAN 72 Jakarta masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit (RS) Yarsi, Cempaka Putih.
Dari jumlah itu, empat di antaranya mengalami tuli mendadak (sudden deafness) tanpa kerusakan pada membran telinga.
"Empat siswa tersebut akan menjalani terapi hyperbaric agar fungsi pendengaran mereka bisa kembali pulih," ujar Direktur Medis RS Yarsi, dr. Muhammadi, di Jakarta, Selasa (11/11/2025).
Baca Juga: Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta Ditetapkan Sebagai Anak Berkonflik Hukum, Dijerat Beberapa Pasal Menurut Muhammadi, mayoritas korban yang dirawat mengalami trauma pada pendengaran akibat tekanan gelombang ledakan di area masjid sekolah.
Terapi hyperbaric dilakukan dengan memberikan oksigen murni bertekanan tinggi, guna mempercepat regenerasi sel dan memperbaiki fungsi telinga bagian dalam.
Kepala Unit Hyperbaric RS Yarsi, dr. Erick Supondha, menjelaskan bahwa tuli mendadak akibat trauma suara keras masih memiliki peluang sembuh sepenuhnya jika segera ditangani.
"Selama sel-selnya belum mati, fungsi pendengaran masih bisa dipulihkan. Dua minggu pertama ini adalah masa paling krusial," ujar Erick.
Erick menambahkan, terapi akan dilakukan dalam 5 hingga 10 sesi bertahap.
Setiap pasien akan masuk ke ruang kedap udara (hyperbaric chamber) dan menghirup oksigen murni selama beberapa menit di bawah tekanan tinggi.
Dari 11 korban yang dirawat, enam di antaranya masih menjalani rawat inap, sementara sisanya sudah diperbolehkan rawat jalan dengan kondisi membaik.
"Pasien masih muda, sehingga peluang pemulihan alami cukup besar. Kami akan terus pantau selama dua sampai tiga minggu ke depan," tutur Muhammadi.
Ledakan di SMAN 72 Jakarta Utara terjadi pada Jumat (7/11/2025) sekitar pukul 12.15 WIB, saat pelaksanaan salat Jumat di masjid sekolah.