BANYUASIN — Gempa bumi bermagnitudo 4,3 yang mengguncang wilayah Banyuasin, Rabu (28/5/2025), dinilai Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai kejadian yang tidak lazim.
Pasalnya, sejak lebih dari satu dekade terakhir, wilayah ini belum pernah mengalami aktivitas seismik serupa.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menyebutkan bahwa menurut catatan seismisitas regional periode 2009-2024, tidak pernah tercatat adanya gempa di Banyuasin.
Bahkan, tidak ada satu pun catatan gempa merusak yang pernah terjadi di daerah tersebut.
"Gempa ini menjadi peringatan bahwa di wilayah Banyuasin terdapat sumber gempa sesar aktif yang mampu memicu guncangan kuat, namun belum teridentifikasi dan terpetakan," ungkap Daryono, Kamis (29/5/2025).
Menurut analisis BMKG, gempa ini membuka kemungkinan adanya sesar aktif tersembunyi di Banyuasin.
Secara teori, hampir seluruh permukaan Bumi memungkinkan terbentuknya sesar aktif akibat distribusi gaya tekanan tektonik yang tidak merata, meski jauh dari batas lempeng.
"Gaya yang bekerja pada kerak Bumi tidak hanya terbatas pada batas lempeng, tetapi juga menyebar ke interior lempeng," jelas Daryono.
Daryono menegaskan bahwa gempa ini menjadi alarm kewaspadaan dini bagi masyarakat dan pemerintah daerah.
Ia menekankan pentingnya antisipasi melalui perencanaan pembangunan yang lebih memperhatikan aspek mitigasi bencana, terutama bangunan tahan gempa.
"Bangunan jenis ini dapat meminimalkan risiko runtuh saat gempa, sehingga mampu melindungi keselamatan jiwa dan mengurangi kerusakan," pungkasnya.
Meskipun tidak dilaporkan adanya korban jiwa atau kerusakan berarti, gempa Banyuasin menjadi pengingat keras bahwa tak ada wilayah yang benar-benar bebas dari ancaman bencana.*
(km/a008)