Dua Dekade Tsunami Aceh: Warga Kenang Keluarga di Kuburan Massal Ulee Lheue

BITVonline.com - Kamis, 26 Desember 2024 13:51 WIB

Warning: getimagesize(https://bitvonline.com/cdn/uploads/images/2024/1220231226-img-1642.jpeg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u604751480/domains/bitvonline.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u604751480/domains/bitvonline.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u604751480/domains/bitvonline.com/public_html/amp/detail.php on line 172

Banda Aceh–Dua dekade pasca bencana tsunami Aceh yang mengguncang pada 26 Desember 2004, kenangan akan kejadian memilukan itu masih membekas di hati para penyintas dan keluarga korban. Salah satunya adalah Lina, yang setiap tahun tidak pernah absen untuk berziarah ke kuburan massal Ulee Lheue di Banda Aceh, tempat ribuan korban tsunami dimakamkan.

“Setiap peringatan tsunami pasti ke sini. Hari-hari biasa, kalau lewat, saya juga menyempatkan diri mampir,” ujar Lina, salah satu warga Banda Aceh, saat ditemui di kuburan massal Ulee Lheue, Kamis (26/12/2024). Lina kehilangan ibu dan adiknya yang saat itu tinggal di Punge Jurong, Banda Aceh. Meskipun jenazah mereka tidak pernah ditemukan, Lina meyakini keduanya dimakamkan di kuburan massal tersebut.

“Mayat mereka tidak pernah ditemukan, tetapi saya yakin mereka dimakamkan di sini,” kata Lina dengan mata yang berkaca-kaca, mengenang peristiwa yang mengubah hidupnya. Kenangan tersebut terus hidup dalam ingatannya, apalagi ia masih teringat dengan percakapan terakhir bersama sang ibu, yang mengundangnya untuk menghadiri kenduri ulang tahun adiknya. Namun, segalanya berubah saat gempa disusul tsunami melanda.

Lina juga mengingat cerita tetangga yang sempat melihat adiknya berdiri di simpang jalan, tersenyum saat gelombang besar mendekat. “Pernah ada tetangga yang bilang melihat adik saya berdiri di simpang, tersenyum saat air datang. Itulah terakhir kali dia terlihat,” kenangnya.

Selain Lina, Nelly (32), seorang tenaga pendidik yang kini bekerja di sebuah SMA di Banda Aceh, juga sering mengunjungi kuburan massal Ulee Lheue untuk mengenang keluarganya. Saat tsunami melanda, Nelly yang masih menjadi mahasiswa di Universitas Syiah Kuala, berhasil selamat setelah mengikuti instruksi pemilik rumah kos untuk naik ke atap rumah tetangga. Dari atap tersebut, ia menyaksikan bagaimana gelombang tsunami meluluhlantakkan semua yang ada di sekitarnya.

“Saya sedang di kos bersama teman-teman. Setelah gempa besar, bapak kos menyuruh kami naik ke lantai dua, bahkan ke atap rumah tetangga,” ujar Nelly. Meskipun ia selamat, sepupunya yang tinggal di Lampulo, Banda Aceh, bersama bayi berusia dua tahun, tidak berhasil bertahan. “Sepupu saya mungkin lari saat air datang, tetapi tidak berhasil menyelamatkan diri,” ujar Nelly dengan sedih.

Kini, Nelly mengunjungi kuburan massal Ulee Lheue untuk mengenang keluarga dan teman-temannya yang telah tiada. “Ziarah ini adalah cara saya mengenang mereka. Rasanya tidak lengkap jika tidak mengirimkan doa di sini,” ujar Nelly dengan haru.

Dua dekade setelah bencana yang menelan puluhan ribu korban jiwa, warga Aceh seperti Lina dan Nelly terus menjaga kenangan dan berdoa untuk keluarga yang hilang dalam tragedi tersebut.

(Christie)

Editor
:
Sumber
:

Tag:

Berita Terkait

Peristiwa

Pakistan Minta AS dan Iran Jaga Gencatan Senjata Meski Perundingan di Islamabad Buntu

Peristiwa

Koalisi Sipil Desak MK Percepat Uji Materi UU TNI Usai Kasus Andrie Yunus

Peristiwa

Oditurat Militer Respons Usul Hakim Ad Hoc di Kasus Andrie Yunus, Tegaskan Tetap di Peradilan Militer

Peristiwa

Bobby Sebut Dana Bencana Sumut Naik Jadi Rp23,32 Triliun, Fokus Pemulihan Pascabanjir dan Longsor

Peristiwa

Resmi Jabat Danrindam IM, Ali Imran Fokus Cetak Prajurit Tangguh dari Putra Daerah Aceh

Peristiwa

Waka MPR Apresiasi Sugiono Jadi Ketum IPSI 2026-2030, Diharapkan Dongkrak Prestasi Atlet