Pedagang Pasar Slipi Mengeluh Sepi Pengunjung, Omzet Anjlok Lebih dari 60%

Redaksi - Senin, 30 Desember 2024 08:29 WIB

Warning: getimagesize(https://bitvonline.com/cdn/uploads/images/2024/12WhatsApp-Image-2024-12-30-at-15.27.33.jpeg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u604751480/domains/bitvonline.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u604751480/domains/bitvonline.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u604751480/domains/bitvonline.com/public_html/amp/detail.php on line 172

Jakarta – Sepinya pengunjung di Pasar Slipi, Jakarta Barat, membuat omzet para pedagang kian merosot tajam. Kondisi ini telah berlangsung sejak sebelum pandemi Covid-19 melanda pada 2020, namun situasi semakin memburuk pasca-pandemi. Erizon, salah satu pedagang sepatu dan tas, mengungkapkan bahwa penjualan di tokonya turun lebih dari 60% dibandingkan sebelum pandemi. Bahkan, momen-momen ramai seperti Lebaran dan akhir tahun pun tidak memberikan dampak signifikan terhadap pengunjung pasar. “Sehari-hari memang sepi. Mau Lebaran atau akhir tahun tetap sepi. Sudah berapa tahun ini Lebaran juga nggak ramai lagi,” kata Erizon, Senin (30/12/2024). Selain sepinya pengunjung, persaingan dengan toko online turut menambah beban para pedagang. Erizon mengaku bahwa keuntungan yang didapat hanya cukup untuk membayar biaya iuran dan listrik, sementara toko miliknya terus merugi. “Kalau dihitung-hitung, toko ini malah rugi. Untungnya cuma buat bayar iuran saja,” tambahnya.

Erizon menyebut, hampir setengah dari toko di Pasar Slipi kini tutup permanen karena tidak mampu bersaing dan bertahan. “Dulu sebelum pandemi, toko yang tutup cuma sekitar 10-15%. Sekarang yang masih buka paling 45%, sisanya tutup,” jelasnya. Hal serupa diungkapkan Uyus, pedagang pakaian yang telah berjualan di Pasar Slipi sejak akhir 1990-an. Menurutnya, omzet penjualan kini menurun drastis hingga keuntungan hanya cukup untuk membayar iuran pasar. “Sehari belum tentu ada yang laku. Ini tadi ada yang nawar celana, saya kasih untung Rp 5.000 saja dia nggak mau,” ungkap Uyus dengan nada lesu. Beruntung, Uyus tidak perlu membayar uang sewa karena toko yang ditempatinya adalah milik sendiri. Selain itu, ia mendapatkan pemasukan tambahan dari pekerjaan menjahit pakaian dan memasang payet untuk pelanggannya. “Kalau nggak ada kerjaan tambahan, sudah pasti saya nggak bisa bertahan di sini,” katanya. Banyaknya toko yang tutup membuat kawasan Pasar Slipi semakin sepi dan gelap. Para pedagang berharap adanya dukungan dari pihak terkait untuk menghidupkan kembali pasar tradisional yang kian tergerus oleh perubahan zaman dan dominasi perdagangan daring.

(christie)

Editor
:
Sumber
:

Tag:

Berita Terkait

Peristiwa

Sempat Dinyatakan Sembuh, 15 Siswa Karo Kembali Dirawat Usai Dugaan Keracunan MBG

Peristiwa

Mau ke Danau Toba dari Medan Naik Transportasi Umum? Ini Rute yang Bisa Dipilih

Peristiwa

IHSG Dibuka Anjlok 1,19 Persen, Saham Big Caps DSSA hingga BBCA Berguguran

Peristiwa

Emas Antam Masih Mahal! 1 Gram Rp2,625 Juta, Buyback Turun Rp25 Ribu

Peristiwa

Harga Pangan Nasional Hari Ini: Bawang Merah Turun, Cabai dan Telur Justru Naik

Peristiwa

Tiga Eks Pejabat KSOP Belawan Didakwa Korupsi PNBP, Kerugian Negara Capai Rp648 Juta