JAKARTA -Sebuah duka mendalam menyelimuti tanah air, saat kabar tragis datang dari perairan Korea Selatan. Sebuah kapal nelayan, yang membawa harapan dan penghidupan bagi sembilan jiwa, mengalami nasib kelam di ombak yang mengamuk. Di antara para awaknya, tujuh pahlawan devisa dari Indonesia, yang menjalani perjuangan di laut lepas demi menyokong keluarga di tanah air. Namun, nasib berkata lain. Mereka terjebak dalam kepungan laut yang ganas, merenggut tiga nyawa, dan menyisakan duka yang mendalam.
Senin yang mendung menjadi saksi atas peristiwa menyayat hati ini. Benny Rhamdani, juru bicara dari Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), dengan suara terguncang menyampaikan bahwa dari sembilan pahlawan yang terjebak dalam belitan gelombang, tiga di antaranya telah berpulang ke Rahmatullah. Perjuangan mereka, yang semula penuh harapan, kini hanya meninggalkan kepedihan yang mendalam bagi keluarga dan negara.
Para pahlawan devisa ini, yang telah berjuang di sektor perikanan Korea Selatan, bekerja dengan penuh dedikasi di bawah skema penempatan Private to Private. Mereka tidak hanya memperjuangkan hidupnya sendiri, tetapi juga menjadi penopang bagi keluarga yang mereka tinggalkan di tanah air. Namun, ombak tak kenal belas kasihan, merenggut impian dan cita-cita mereka dalam sebuah momen yang menghantam hati.
Kapal nelayan yang membawa beban harapan ini, dengan bobot seberat 29 ton, terbalik di pagi hari di perairan yang menjadi saksi bisu atas tragedi yang terjadi. Di selatan pulau Tongyeong, Provinsi Gyeongsang Selatan, tepatnya 68 kilometer dari daratan, kapal ini menjadi saksi bisu atas peristiwa yang mengguncang banyak hati.
Operasi penyelamatan segera dilakukan setelah insiden tersebut. Namun, meskipun upaya dilakukan dengan sepenuh hati, empat nyawa tidak bisa diselamatkan, dan lima orang lainnya masih menjadi teka-teki yang memilukan. Presiden Korea Selatan, Yoon Suk Yeol, memberikan perintah tegas untuk memobilisasi seluruh sumber daya yang tersedia, termasuk angkatan laut dan kapal penangkap ikan, demi menyelamatkan nyawa yang tersisa.
Kita tidak bisa mengabaikan pengorbanan yang telah diberikan oleh para pekerja migran Indonesia ini. Mereka bukan hanya sekadar pekerja, tetapi pahlawan yang dengan gigih memperjuangkan kehidupan, meski harus menempuh perjalanan yang berliku di tengah lautan yang ganas. Kita meratapi kepergian mereka dengan doa dan harapan, semoga perjalanan terakhir mereka menuju Tuhan yang Maha Pengasih dipenuhi dengan ketenangan.
Pemerintah, melalui Kementerian Luar Negeri dan KBRI Seoul, berkomitmen untuk terus melakukan upaya pencarian dan koordinasi dengan pihak terkait. Semoga dalam kegelapan yang menyelimuti, sinar harapan dapat kembali menyinari langkah-langkah kita. Semoga keempat pahlawan yang masih belum ditemukan segera ditemukan dalam keadaan selamat, membawa kabar baik bagi keluarga yang menanti di tanah air.
Tragedi ini bukan hanya sekadar insiden biasa. Ini adalah cerminan dari kehidupan para pekerja migran yang tak kenal lelah berjuang di negeri orang. Mari kita kenang pengorbanan mereka, dan tetap waspada terhadap keselamatan mereka di masa yang akan datang. Karena setiap nyawa memiliki makna dan nilai yang tidak tergantikan.
(K/09)