NIAS SELATAN -Di suatu sudut terpencil Nias Selatan, sebuah tragedi mengerikan melanda sekolah menengah kejuruan yang seharusnya menjadi tempat pembelajaran dan pengembangan diri. Yaredi Ndruru, seorang siswa berusia 17 tahun dari SMK 1 Siduaori, telah kehilangan nyawanya dalam keadaan yang tragis, dituduh menjadi korban penganiayaan oleh kepala sekolahnya sendiri, Safrin Zebua, yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam menjaga keamanan dan kesejahteraan siswa.
Kisah tragis ini dimulai pada tanggal 23 Maret 2024, ketika Yaredi dan 6 siswa lainnya dihukum dengan cara yang kejam, dibariskan dan dipukul oleh kepala sekolahnya sendiri. Tindakan ini seakan menjadi awal dari deretan penderitaan yang dialami Yaredi, yang akhirnya berujung pada kehilangan nyawa yang menyedihkan.
Orangtua Yaredi, Ama Hasrat, dengan luka yang begitu dalam di hati, menceritakan kronologi peristiwa yang menimpa anaknya. Sebuah cerita yang menyayat hati, di mana seorang anak yang penuh harapan harus mengakhiri hidupnya akibat perlakuan yang tidak manusiawi.
“Pukul 18.00 WIB pada saat ibunya pulang dari ladang, anakku mengeluh kepala korban sakit, kemudian ibunya memberikan obat sakit kepala kepada korban,” ujar Ama,Rabu (17/4/2024).
Namun, apa yang terjadi selanjutnya adalah rentetan peristiwa yang mengguncang hati siapa pun yang mendengarnya. Sakit kepala yang awalnya dianggap biasa ternyata menjadi tanda-tanda awal dari penderitaan yang lebih dalam. Yaredi mengalami pusing, demam tinggi, dan bahkan mengigau, menandakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam tubuhnya.
Ketika akhirnya Yaredi mengaku bahwa ia telah dipukul oleh Safrin saat dihukum di sekolah, itulah saat keluarga dan teman-temannya mulai menyadari betapa seriusnya kejadian ini. Dokter yang menangani Yaredi juga memberikan bukti yang tak terbantahkan: luka bekas pukulan di bagian kening yang membuat salah satu saraf tidak berfungsi dengan baik.
Bukan hanya sebuah tragedi sekolah biasa, kasus ini telah menjadi sorotan publik yang menggugah kesadaran akan pentingnya perlindungan terhadap anak-anak di lingkungan pendidikan. Kepala sekolah, yang seharusnya menjadi teladan dan pembimbing, malah menjadi pelaku kekerasan yang merenggut nyawa seorang siswa yang seharusnya masih memiliki masa depan yang cerah di depannya.
Kini, suara keadilan bergema di seluruh negeri. Tidak hanya untuk Yaredi, tetapi juga untuk semua anak-anak yang menjadi korban kekerasan di sekolah. Kepolisian dan lembaga terkait diminta untuk mengusut tuntas kasus ini dan memastikan bahwa keadilan benar-benar ditegakkan.
Tragedi ini adalah cerminan dari kompleksitas tantangan yang masih dihadapi dalam dunia pendidikan kita. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk melindungi generasi muda dari segala bentuk kekerasan dan perlakuan yang tidak manusiawi. Kita harus memastikan bahwa setiap sekolah adalah tempat yang aman dan nyaman bagi setiap siswa untuk belajar dan berkembang.
Mari bersatu dalam memperjuangkan keadilan untuk Yaredi dan semua korban kekerasan di sekolah. Mari jadikan tragedi ini sebagai momentum untuk memperbaiki sistem pendidikan kita, agar masa depan generasi penerus kita dapat terjamin dengan baik.
(N/014)