NIAS SELATAN -Kasus dugaan penganiayaan yang mengakibatkan kematian seorang siswa SMK di Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, telah menimbulkan gelombang perhatian dan keprihatinan yang mendalam. Kepala Sekolah yang diduga terlibat dalam insiden tersebut, dengan inisial SZ (37), kini tengah berada di bawah sorotan pihak berwenang.
Kasat Reskrim Polres Nisel, AKP Freddy Siagian, mengungkapkan bahwa kasus ini bermula dari aduan yang dilayangkan oleh sekretaris kecamatan (sekcam) kepada SZ. Aduan tersebut terkait dengan perilaku siswa-siswi yang melakukan Praktek Kerja Industri (Prakerin) di kantor camat setempat. Tanpa diduga, apa yang seharusnya menjadi pengalaman belajar yang membangun bagi siswa-siswi tersebut berubah menjadi tragedi yang menyedihkan.
Kronologi kejadian mengungkap bahwa SZ mengumpulkan siswa-siswi yang melakukan Prakerin, termasuk korban bernama Yaredi Nduru, pada Sabtu, 23 Maret 2024. Dalam pertemuan tersebut, disinyalir bahwa SZ melakukan tindakan penganiayaan dengan memukul kepala siswa-siswi menggunakan tangan. Terdapat laporan bahwa korban dan beberapa siswa lainnya mengalami pukulan hingga lima kali.
Namun, yang membuat peristiwa ini semakin tragis adalah fakta bahwa siswa-siswi yang mengalami penganiayaan tersebut tidak langsung mengeluhkan sakit. Mereka tetap melanjutkan aktivitas Prakerin hingga beberapa hari setelah kejadian tanpa mengeluhkan keluhan kesehatan apapun. Barulah pada tanggal 9 April 2024, korban diketahui mengalami sakit yang serius.
Menyikapi kasus ini, pihak kepolisian berencana memeriksa SZ hari ini. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya untuk mengungkap kebenaran di balik dugaan penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia. Autopsi terhadap jenazah korban juga menjadi bagian dari proses penyelidikan untuk mendapatkan bukti yang akurat.
Kasus ini menjadi pelajaran penting bagi semua pihak, terutama dalam menjaga lingkungan pendidikan yang aman dan terbebas dari tindakan kekerasan.
(N/014)