NTT -Keindahan alam seringkali disertai dengan risiko yang tak terduga. Pagi Jumat yang seharusnya cerah di Kelurahan Rewarangga Selatan, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendadak menjadi hari duka. Longsor datang tanpa aba-aba, menelan korban jiwa satu keluarga yang sedang tertidur.
Pukul 05.30 Wita, gemuruh maut longsor terdengar. Bernardus Bata (55), Hendrika Oka (40), Maria Avika Wonga (7), dan Ecan (1), tak menyadari bahwa itu akan menjadi suara terakhir yang mereka dengar. Mereka tertimbun tanah di atas tempat tidur mereka, tanpa kesempatan untuk menyelamatkan diri.
Kapolsek Ende, Iptu Sudarmin Syafrudin, memberikan detail tragis ini kepada kami, menambahkan bahwa warga setempat, terkejut dengan gemuruh longsor, segera melaporkan insiden ini kepada pihak berwenang. Namun, upaya penyelamatan terasa sia-sia, dan nyawa empat orang tak dapat diselamatkan.
Kami mendapat informasi bahwa rumah keluarga Bata berada di bawah tebing setinggi 10 meter, dengan luas sekitar 12 meter persegi, terbuat dari bahan sederhana seperti bambu dan seng. Kombinasi dari kondisi geografis dan material bangunan yang rentan membuat mereka rentan terhadap bencana alam.
Jenazah korban kemudian dibawa ke RSUD Ende untuk pembersihan, meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga dan masyarakat setempat. Tragedi ini sekali lagi menegaskan pentingnya kesigapan dan kesadaran akan ancaman bencana alam di daerah-daerah rawan seperti Ende, NTT.
Longsor ini mengingatkan kita bahwa meskipun keindahan alam NTT mempesona, kita tidak boleh lengah terhadap risiko yang selalu mengintai. Semoga keluarga korban diberikan kekuatan untuk menghadapi cobaan ini, dan semoga kita semua dapat belajar dari tragedi ini untuk lebih waspada dan siap menghadapi ancaman bencana di masa depan.
(N/014)