JAKARTA - Universitas Paramadina mempertemukan akademisi, pendidik, praktisi, pembuat kebijakan dan mahasiswa dari Indonesia, Inggris serta Vietnam dalam International Forum for Entrepreneurship Educators (IFE) 2026. Forum yang digelar pada 19 Agustus 2026 itu membahas perubahan pendidikan kewirausahaan di tengah perkembangan teknologi dan tuntutan dunia usaha.
Mengusung tema "Glocalizing Entrepreneurship Education: Cultivating Mindsets for a Sustainable Future", forum tersebut menyoroti pentingnya menggabungkan perspektif global dengan kebutuhan dan aksi di tingkat lokal.
Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J. Rachbini mengatakan pendidikan kewirausahaan tidak cukup hanya mengajarkan teori bisnis. Menurutnya, perguruan tinggi perlu mendorong mahasiswa memiliki keberanian mencoba, kemampuan berinovasi serta pengalaman nyata dalam menghadapi ketidakpastian.
Baca Juga: Ngebut di Era Digital Menkomdigi Ungkap 4G Nyaris Sikat 99% Penduduk, 5G Masih Merayap Didik juga berharap jejaring internasional yang terbentuk melalui IFE 2026 tidak berhenti pada forum diskusi. Kerja sama, kata dia, perlu dilanjutkan melalui riset bersama, pertukaran dosen, publikasi dan berbagai bentuk kolaborasi akademik lintas negara.
Keynote speaker dari Glasgow Caledonian University, Dr. Vasilios Stouraitis, menyoroti perlunya perubahan pendekatan dalam pendidikan kewirausahaan. Dia membedakan entrepreneurship education dan entrepreneurial education.
Menurut Vasilios, pendekatan entrepreneurial education memiliki cakupan lebih luas karena tidak hanya mengajarkan cara membangun usaha, tetapi juga membentuk kemampuan menghadapi ketidakpastian. Mahasiswa didorong untuk mengenali peluang, bereksperimen, membangun resiliensi dan menciptakan nilai secara bertanggung jawab.
Perspektif tersebut dinilai semakin relevan ketika perkembangan teknologi berlangsung cepat dan model bisnis terus berubah.
Sementara itu, Prof. Dr. Gancar C. Premanto dari Universitas Airlangga memperkenalkan konsep Holistic Entrepreneur Ecosystem. Model tersebut mencakup empat subsistem, yakni sistem pembelajaran, ekosistem kemitraan, fasilitas pendukung serta pengukuran hasil.
Model tersebut memadukan pembelajaran berbasis pengalaman dan proyek, mentoring alumni, keterlibatan praktisi, pemanfaatan platform digital, konsultasi bisnis hingga pengukuran prestasi mahasiswa melalui kompetisi nasional dan internasional.
Dengan pendekatan tersebut, perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat menyampaikan pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang tumbuh bagi calon entrepreneur.
Perkembangan kecerdasan buatan atau AI juga menjadi salah satu pembahasan dalam forum tersebut. Dr. Angelina Nath Hanh Le dari University of Economics Ho Chi Minh City mengaitkan perkembangan pendidikan kewirausahaan dengan perubahan pemasaran hingga konsep Marketing 7.0.
Menurut Angelina, kemajuan AI justru membuat unsur manusia seperti empati, autentisitas dan storytelling semakin penting.