ACEH TENGAH — Kegiatan belajar-mengajar di SD Negeri 10 Linge, Desa Jamat, Kecamatan Linge, Aceh Tengah, mulai berlangsung lebih baik setelah sebagian siswa berpindah dari tenda darurat ke ruang kelas darurat (RKD).
Ruang kelas darurat tersebut memberikan tempat belajar yang lebih aman dan nyaman bagi siswa setelah bangunan sekolah mereka rusak akibat banjir.
Staf Tata Usaha SD Negeri 10 Linge, Aji Reje, mengatakan kondisi pembelajaran pada masa awal penanganan darurat berlangsung jauh dari ideal.
Baca Juga: Anggaran Rp50 Miliar Belum Bergerak, Tito Turunkan Tim Kemendagri ke Nias Siswa kelas I hingga kelas VI sempat belajar bersama di dalam satu tenda karena bangunan sekolah tidak dapat digunakan.
"Semua kelas, dari kelas I sampai kelas VI, terpaksa digabung dalam satu tenda," ujarnya.
Banjir juga merendam buku paket dan berbagai fasilitas pendidikan di sekolah tersebut.
Sejumlah bantuan buku kemudian datang dari Dinas Pendidikan dan lembaga swadaya masyarakat.
Namun, jumlahnya belum mencukupi kebutuhan seluruh siswa.
Dalam kondisi tersebut, para guru mengandalkan pengalaman dan penguasaan materi agar kegiatan belajar tetap berjalan.
Belajar di bawah tenda menimbulkan berbagai kendala. Suhu panas dan perubahan cuaca membuat konsentrasi siswa terganggu.
Jam pelajaran pun harus dipersingkat. Para siswa kerap dipulangkan lebih awal karena kondisi tenda tidak memungkinkan kegiatan belajar berlangsung hingga siang.
Keadaan mulai berubah setelah ruang kelas darurat dibangun di kawasan Tenda 01. Pihak sekolah kini memanfaatkan tiga ruangan untuk menampung enam jenjang kelas.