NIAS UTARA – Harapan puluhan siswa dan tenaga pendidik di SMP Negeri 4 Sitolu Ori, Kabupaten Nias Utara, untuk memiliki gedung sekolah permanen akhirnya segera terwujud. Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution memberikan bantuan pembangunan gedung sekolah sebagai upaya meningkatkan kualitas sarana pendidikan di wilayah tersebut.
Sejak mulai beroperasi pada 2024, kegiatan belajar mengajar di SMPN 4 Sitolu Ori masih berlangsung di bangunan sederhana berdinding papan dan beratapkan seng. Kondisi itu membuat proses pembelajaran kerap terkendala, terutama saat musim hujan ketika lingkungan sekolah menjadi becek dan kurang nyaman.
Salah seorang siswi kelas IX, Electra Stefani Harefa, mengaku belum pernah merasakan belajar di gedung sekolah permanen sejak pertama kali masuk sekolah. Menurutnya, kondisi ruang belajar saat ini masih jauh dari ideal.
Baca Juga: Resmi! Dedi Rizaldi Terpilih Kembali Pimpin Satgas GM FKPPI Sumut Periode 2026–2031 "Kami kurang nyaman, contohnya saat musim hujan. Situasi lingkungan agak becek dan banyak nyamuk yang mengganggu saat kami belajar di kelas," ujar Electra, Kamis (6/8/2026).
Electra mengaku bersyukur setelah mengetahui sekolahnya akan segera memiliki gedung baru. Ia pun menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Bobby Nasution atas perhatian yang diberikan kepada sekolah di daerahnya.
"Bapak Gubernur, terima kasih atas perhatian Bapak di sekolah kami ini. Semoga ke depannya Bapak Gubernur bertambah rezeki dan bijaksana untuk memimpin Sumut ini," katanya.
Saat ini SMPN 4 Sitolu Ori memiliki 45 siswa yang terdiri dari 16 siswa kelas VII, 11 siswa kelas VIII, dan 18 siswa kelas IX.
Kepala SMPN 4 Sitolu Ori, Teti Gea, menyampaikan bantuan pembangunan gedung sekolah menjadi harapan baru bagi seluruh warga sekolah. Ia menilai dukungan tersebut merupakan bentuk komitmen Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dalam meningkatkan mutu pendidikan hingga ke daerah terpencil.
"Kami ucapkan terima kasih. Semoga ke depan fasilitas yang lain juga dapat dibantu," ujarnya.
Selain pembangunan ruang belajar, Teti berharap pemerintah dapat membantu pembangunan laboratorium, perpustakaan, serta akses jalan menuju sekolah. Menurutnya, sebagian siswa harus berjalan kaki sejauh dua hingga lima kilometer setiap hari untuk mengikuti kegiatan belajar.
"Ada yang berangkat sejak pukul 06.00 pagi karena harus berjalan kaki menuju sekolah," katanya.
Pembangunan yang akan dilakukan meliputi tiga ruang kelas lengkap dengan perabotannya, satu ruang administrasi yang terdiri atas ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang tata usaha, dan ruang tamu, serta fasilitas sanitasi berupa toilet laki-laki, perempuan, dan toilet difabel.