JAKARTA – Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) kembali menggelar forum akademik The Colors of Communication 2026 dengan mengangkat tema "Influence and Virality: Trend Budaya dalam Komunikasi Digital". Kegiatan tersebut menyoroti fenomena komunikasi digital yang berkembang pesat serta pentingnya membangun strategi komunikasi yang efektif di tengah derasnya arus informasi media sosial.
Acara yang berlangsung di Kampus I Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Jakarta Pusat, Sabtu (27/6/2026), dihadiri akademisi, praktisi media, mahasiswa, hingga peserta dari berbagai daerah.
Rektor Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Dr. H. Muhammad Saifulloh, mengatakan transformasi digital telah mengubah pola komunikasi masyarakat sekaligus melahirkan budaya baru yang terus berkembang.
Baca Juga: Gebyar Pendidikan Medan 2026, Rico Waas Yakin Anak Medan Lahir sebagai Generasi Juara Menurutnya, kemampuan beradaptasi dengan perubahan teknologi menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki generasi muda, khususnya mahasiswa yang akan memasuki dunia profesional.
"Perubahan teknologi telah menggeser cara manusia berkomunikasi. Karena itu, kemampuan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman menjadi kompetensi yang harus dimiliki generasi muda," ujarnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Rialdo Rezeky Manogari L. Toruan, Wakil Dekan Dr. Eni Kardi Wiyati, Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Dr. Natalia Nilamsari, serta Ketua Program Studi S1 Ilmu Komunikasi Fizzy Andriani.
Dalam sesi diskusi, Kepala Biro Humas dan Publik Kementerian Kebudayaan RI, Prof. Dr. Ibnu Hamad, mengajak kalangan akademisi untuk lebih aktif membangun identitas budaya digital Indonesia melalui karya, inovasi, serta pemikiran ilmiah.
Ia menilai Indonesia tidak hanya harus menjadi pengguna budaya digital global, tetapi juga mampu melahirkan teori dan perspektif komunikasi yang berakar pada nilai-nilai bangsa.
"Kita perlu membangun budaya komunikasi yang lahir dari pemikiran anak bangsa. Tidak hanya mengikuti perkembangan dunia, tetapi juga memberikan kontribusi melalui gagasan dan teori yang berasal dari Indonesia," katanya.
Sementara itu, Head of Protocol and Corporate/Public Affairs SCM-Emtek Media, Irnawati Widji Kahardja, menegaskan bahwa viralitas bukan satu-satunya indikator keberhasilan komunikasi digital.
Menurutnya, reputasi yang kuat dibangun melalui komunikasi yang konsisten, inovasi konten, pemahaman terhadap karakter audiens, serta evaluasi yang dilakukan secara berkelanjutan.
"Brand yang kuat dibangun melalui komunikasi yang konsisten, kemampuan membaca kebutuhan audiens, inovasi konten, serta evaluasi yang terus dilakukan. Media sosial saat ini menjadi salah satu instrumen utama dalam membangun reputasi," jelasnya.