SORONG – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menegaskan pemerintah terus berupaya memastikan seluruh anak Indonesia memperoleh akses pendidikan yang layak, termasuk mereka yang berada di wilayah terpencil seperti Pulau Arar, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.
Ia menekankan bahwa tidak boleh ada anak Indonesia yang kehilangan hak pendidikan, baik karena faktor ekonomi, keterbatasan kemampuan, kondisi fisik, maupun lokasi geografis yang terpencil.
"Tidak boleh ada anak Indonesia yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan karena memiliki kesulitan ekonomi, kemampuan intelektual, keterbatasan fisik, atau berada di daerah yang terpencil seperti di Pulau Arar ini. Ini adalah amanat yang sungguh-sungguh kami tunaikan semaksimal mungkin," kata Mu'ti dalam keterangan tertulis, Minggu (31/5/2026).
Baca Juga: APBN dari Rakyat untuk Rakyat-Kurban Presiden Prabowo Disoal, Mari Uraikan Mu'ti menjelaskan, pemerintah menjadikan sekolah di daerah terdampak bencana, wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), serta sekolah dengan kerusakan berat sebagai prioritas dalam program revitalisasi satuan pendidikan tahun 2026.
Selain pembangunan fisik, pemerintah juga memperkuat sejumlah kebijakan untuk memperluas akses pendidikan di daerah terpencil.
Sedikitnya terdapat lima model layanan pendidikan yang dikembangkan, yakni pendidikan jarak jauh, sekolah satu atap, sekolah terbuka berbasis komunitas belajar, pendidikan kesetaraan, serta kursus dan pelatihan.
Menurutnya, pendekatan tersebut dirancang agar layanan pendidikan dapat menyesuaikan kondisi geografis serta kebutuhan masyarakat di masing-masing daerah.
"Kita merasakan semangat yang sama untuk memajukan pendidikan di tanah air. Mari bersama-sama kita bangkitkan semangat agar anak-anak kita dapat tumbuh menjadi generasi emas Indonesia 2045," ujarnya.
Sementara itu, dampak program revitalisasi pendidikan disebut mulai dirasakan langsung oleh peserta didik di Pulau Arar.
Salah satunya disampaikan Meske Salomina Sosir, siswa SMA Unimuda Pulau Arar.
Ia mengaku sebelumnya harus belajar di bangunan sekolah yang rusak dan kurang layak.
Namun setelah program revitalisasi berjalan, fasilitas sekolah kini mengalami perbaikan dan kembali dapat digunakan untuk kegiatan belajar.