YOGYAKARTA - Universitas Gadjah Mada (UGM) menerima delapan mahasiswa asal Gaza, Palestina, yang terdampak konflik perang di wilayah tersebut untuk melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK).
Saat ini, kedelapan mahasiswa tersebut tengah mengikuti proses seleksi masuk di kampus yang berlokasi di Yogyakarta itu.
Dekan FK-KMK UGM, Yodi Mahendradhata, mengatakan salah satu mahasiswa yang mengikuti seleksi adalah Dina, mahasiswa kedokteran dari Al-Azhar University Gaza.
Baca Juga: Panglima TNI Instruksikan Seluruh Prajurit Siaga 1, Ada Apa? Studi Dina terhenti pada 2023 setelah kampusnya menjadi sasaran serangan bom dan mengalami kerusakan berat.
"Mahasiswi tersebut terpaksa menghentikan studinya karena kampusnya hancur akibat konflik," kata Yodi dalam keterangan resmi UGM pada Sabtu, 7 Maret 2026.
Menurut Yodi, penerimaan mahasiswa dari Gaza merupakan bagian dari upaya mendukung keberlanjutan pendidikan kedokteran dan kesehatan bagi masyarakat Palestina.
Kisah Dina dan sejumlah mahasiswa lainnya menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan FK-KMK UGM dalam upaya memajukan pendidikan kesehatan.
Ia menilai pendidikan kedokteran memiliki peran penting dalam membantu pemulihan sistem kesehatan di wilayah yang terdampak konflik.
Selain membuka peluang bagi mahasiswa dari Palestina, FK-KMK UGM juga menyatakan komitmennya untuk memperluas akses pendidikan bagi mahasiswa dari wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Indonesia.
Salah satu contoh disebutkan melalui keberhasilan alumninya, Merlins Renatasia Waromi, dokter asal Serui, Kabupaten Yapen, Papua.
Ia tercatat sebagai lulusan tercepat pada program pendidikan dokter spesialis mikrobiologi klinik dengan masa studi 3 tahun 6 bulan 12 hari.
FK-KMK UGM juga aktif mendampingi pengembangan pendidikan dokter spesialis di Universitas Cenderawasih Papua.