MEDAN — Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Sumatera Utara menggelar Simposium Pendidikan Sumatera Utara di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (FISIP USU),Kamis (26/2/2026).
Kegiatan ini berlangsung sejak pukul 15.00 WIB hingga selesai, dengan tema "Restorasi Pendidikan Sumatera Utara: Rekonstruksi Akses, Kualitas dan Keadilan Sosial Menuju Aksi Nyata Indonesia Emas 2045."
Acara ini menjadi ruang refleksi dan konsolidasi gagasan untuk perbaikan sistem pendidikan di Sumatera Utara, menghadirkan tokoh nasional dan praktisi pendidikan, di antaranya K.H. Muhammad Nuh (Anggota DPD RI), Prof. Restu (Praktisi Pendidikan), dan Ahmad Zaki Mubarak (Aktivis Pendidikan).
Baca Juga: Gubernur Aceh Muzakir Manaf Lantik Pejabat Eselon II, Tekankan Profesionalisme dan Percepatan Pembangunan Simposium dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Sumatera Utara, Prof. Muryanto Amin, yang menekankan peran perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu sekaligus motor perubahan sosial.
Koordinator Daerah BEM SI Sumatera Utara, Itsqan Wafi Fauzan, menyampaikan bahwa simposium lahir dari kegelisahan mahasiswa terhadap ketimpangan akses dan kualitas pendidikan di Sumatera Utara.
"Masih terdapat disparitas antara wilayah perkotaan dan pedesaan, baik dari sisi infrastruktur, kualitas tenaga pendidik, maupun fasilitas belajar. Hal ini harus menjadi perhatian bersama," ujarnya.
Dalam sesi talk show, pemateri menyoroti tiga isu utama:- Akses pendidikan yang belum merata, khususnya di wilayah terpencil Sumatera Utara.- Kualitas pembelajaran yang masih menghadapi tantangan, mulai dari kompetensi tenaga pendidik hingga relevansi kurikulum.- Keadilan sosial dalam pendidikan, termasuk pembiayaan dan afirmasi bagi kelompok kurang mampu.
Muhammad Nuh menekankan bahwa pembangunan pendidikan harus berbasis data dan berpihak pada keadilan sosial.
Sementara Prof. Restu menyoroti pentingnya inovasi pembelajaran dan penguatan karakter peserta didik.
Ahmad Zaki Mubarak menambahkan bahwa gerakan mahasiswa harus terus mengawal kebijakan pendidikan agar berpihak pada rakyat.
Koordinator Pusat BEM SI, Muzammil Ihsan, menegaskan bahwa peran mahasiswa adalah menjadi mitra kritis sekaligus solutif pemerintah dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Simposium ini diharapkan tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi melahirkan rekomendasi konkret dan aksi kolaboratif antara mahasiswa, akademisi, serta pemangku kebijakan di Sumatera Utara.