JAKARTA - Ketimpangan kesejahteraan guru honorer di daerah terpencil kembali menjadi sorotan.
Di wilayah Kupang, Nusa Tenggara Timur, dua pendidik menghadapi kondisi ekonomi yang jauh dari kata layak, meski telah mengabdi puluhan tahun di dunia pendidikan.
Kisah tersebut viral di media sosial setelah influencer bernama Suli mewawancarai seorang guru honorer di NTT.
Baca Juga: Presiden Prabowo Bertemu Sheikh MBZ dan 6 Emirat Lainnya, Perkuat Kerja Sama Strategis Investasi dan Ekonomi Pak Agustinus, guru honorer dengan masa pengabdian 23 tahun, kini menerima gaji Rp223 ribu per bulan setelah pemotongan anggaran dari sebelumnya Rp600 ribu.
Sementara itu, Pak Wesli, yang menjabat kepala sekolah di wilayah yang sama, memperoleh Rp100 ribu per bulan.
(Seorang kepala sekolah di wilayah Kupang, Pak Wesli.)
Secara nominal, angka tersebut bahkan jauh di bawah kebutuhan dasar rumah tangga bulanan.
Namun bagi keduanya, itulah realitas yang harus dijalani setiap bulan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
"Jika kita berbicara tentang masa depan bangsa, maka kita sedang berbicara tentang guru. Dan jika guru tidak sejahtera, kita sedang membiarkan fondasi itu rapuh," ujar Suli dalam pernyataannya.
Alih-alih berhenti pada empati, Suli menginisiasi sistem dukungan jangka panjang melalui komunitas edukasi digital yang dipimpinnya, TWS.
Menurut dia, bantuan dirancang tidak bersifat insidental, melainkan berorientasi pada stabilitas.