PADANG SIDIMPUAN – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di beberapa sekolah di Kota Padang Sidimpuan, Sumatera Utara, menjadi sorotan karena standar harga murah dinilai memengaruhi kualitas nutrisi yang diterima siswa.
Beberapa menu hanya terdiri dari roti sepotong, telur eropa satu butir, korma tiga biji, dan buah langsat empat biji, dengan biaya per porsi sekitar Rp 6.000.
"Kami sangat khawatir dengan kualitas makanan yang disajikan di sekolah. Anak-anak kami tidak mendapatkan gizi yang cukup, sehingga mempengaruhi kesehatan dan konsentrasi mereka di kelas," ujar seorang orang tua murid SD di kota tersebut.
Baca Juga: Raih Opini Kualitas Tinggi Tanpa Maladministrasi dari Ombudsman RI 2025, Ini Strategi Pemprov Sumut Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang Sidimpuan menegaskan bahwa pihaknya telah meminta sekolah meningkatkan kualitas menu dan memastikan siswa menerima gizi seimbang.
"Kami akan terus melakukan pengawasan dan memberikan pembinaan kepada pihak sekolah untuk meningkatkan kualitas menu makanan," kata Kepala Dinas Pendidikan.
Namun, beberapa pihak sekolah mengaku kesulitan. Program MBG dijalankan pemerintah dengan harga standar Rp 15.000 per porsi, yang mencakup Rp 10.000 untuk bahan makanan dan tambahan Rp 2.000–3.000 untuk pengolahan dan upah karyawan.
Pihak sekolah mengaku kesulitan menyajikan makanan berkualitas optimal dengan harga tersebut.
Program MBG sendiri digagas untuk meningkatkan mutu kesehatan siswa, memastikan mereka mendapatkan makanan bergizi, dan mendukung pola pikir serta prestasi belajar yang lebih baik. Program ini merujuk pada standar gizi yang ditetapkan Kementerian Kesehatan RI.
Meski demikian, kekhawatiran muncul terkait potensi pengurangan anggaran kesehatan dan pendidikan demi efisiensi, serta dugaan pihak-pihak yang lebih mengutamakan keuntungan dari program ini.
Orang tua berharap program MBG tidak menjadi preseden buruk bagi mutu gizi siswa di sekolah.*
(dh)