JAKARTA – Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, mengingatkan tentang ancaman penurunan mutu pendidikan tinggi di Indonesia akibat ledakan jumlah mahasiswa di Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
Pernyataan ini disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi X DPR RI di Senayan, Jakarta.
Menurut Prof. Didik, tren penerimaan mahasiswa baru yang sangat masif, terutama di PTN Berbadan Hukum (PTNBH), cenderung lebih menekankan kuantitas demi pendanaan operasional ketimbang kualitas riset.
Baca Juga: IMO-Indonesia Desak Polri Hormati Mekanisme Pers Sebelum Tetapkan Wartawan Babel Jadi Tersangka Fenomena ini, ujar Prof. Didik, menjadikan kampus terjebak dalam "industri kursus kuliah massal" yang mengancam kualitas akademik nasional.
"Universitas yang seharusnya menjadi pusat riset dan pengembangan ilmu justru terfokus pada pengajaran masal. Ini berbeda jauh dengan kampus top dunia yang membatasi jumlah mahasiswa untuk menjaga kualitas dan rasio fokus pada penelitian," ujar Prof. Didik.
Data penerimaan mahasiswa baru menunjukkan beberapa PTN besar kini menampung belasan hingga puluhan ribu mahasiswa per tahun. Hal ini memengaruhi daya saing global pendidikan tinggi Indonesia.
Hingga kini, belum ada universitas di tanah air yang masuk peringkat 100 besar dunia, tertinggal dari negara tetangga seperti Singapura.
Prof. Didik juga menyoroti ketimpangan antara PTN dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Kebijakan ekspansi mahasiswa di PTN disebut perlahan mematikan peran PTS, yang sebagian besar berbasis masyarakat sipil.
Sebagai solusi, Prof. Didik mengusulkan:
1. Penerapan batas maksimal mahasiswa S1 di PTN.
2. Fokus ekspansi ke program pascasarjana dan riset strategis.
3. Reformasi sistem insentif dosen dan dukungan fiskal bagi PTS untuk menjaga inovasi dan ekosistem pendidikan tinggi nasional.