ACEH TAMIANG — Sekolah-sekolah Muhammadiyah di Aceh secara bertahap mulai kembali melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) setelah terdampak bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah.
Momentum kebangkitan pendidikan ini ditegaskan oleh Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) PW Muhammadiyah Aceh, Iskandar Muda Hasibuan, saat mengunjungi SD Unggul Muhammadiyah Rantau, Aceh Tamiang, Sabtu (3/1/2026).
Kunjungan tersebut menjadi simbol pemulihan pendidikan dan penyemangat bagi para pendidik, peserta didik, tenaga kependidikan, dan orang tua yang terdampak bencana.
Baca Juga: Bobby Nasution Minta Pejabat Baru Sumut Kerja Cepat dan Tepat untuk Penanganan Pascabencana Di tengah keterbatasan sarana dan trauma akibat bencana, Muhammadiyah menegaskan komitmennya untuk memastikan hak pendidikan anak-anak tetap berjalan.
"Sekolah Muhammadiyah harus hadir sebagai ruang aman, ruang harapan, dan ruang tumbuh bagi anak-anak Aceh. Di tengah banjir dan longsor yang kita alami, pendidikan tidak boleh berhenti. Justru dari sekolah inilah semangat bangkit dan optimisme masa depan ditanamkan," ujar Iskandar di hadapan guru dan siswa.
Iskandar mengapresiasi dedikasi guru-guru Muhammadiyah yang tetap menjalankan tugas meski sebagian terdampak bencana.
Menurutnya, keteguhan para pendidik menjadi teladan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, berkhidmat untuk umat dalam kondisi apa pun.
PW Muhammadiyah Aceh melalui Majelis Dikdasmen terus memantau kesiapan sekolah dan berkoordinasi dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) serta Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM). Sekolah yang terdampak berat akan mendapat pendampingan dan dukungan berkelanjutan.
Kepala SD Unggul Muhammadiyah Rantau, Maria Rahayu, S.Pd., M.Pd., menyebut kunjungan Ketua Majelis Dikdasmen sebagai suntikan semangat baru bagi guru, siswa, dan orang tua.
"Anak-anak kembali tersenyum, guru kembali bersemangat, dan orang tua merasa lebih tenang karena pendidikan anak-anak mereka kembali berjalan," ujarnya.
Dimulainya kembali KBM ini diharapkan menjadi contoh ketangguhan lembaga pendidikan dalam menghadapi bencana.
Selain pembelajaran akademik, sekolah Muhammadiyah juga memberikan penguatan karakter, nilai keislaman, dan dukungan psikososial bagi siswa terdampak.