SURABAYA - Upacara peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2025 yang digelar di Kota Surabaya menjadi momentum bagi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti untuk menyampaikan pesan penting terkait cara masyarakat menilai guru.
Ia menegaskan, kualitas guru tidak bisa hanya diukur dari angka-angka atau nilai statistik semata.
"Jangan hanya menilai kinerja dan menghakimi mereka dari angka-angka. Sejatinya, tanggung jawab pendidikan yang pertama dan utama adalah orang tua dan keluarga. Berilah kesempatan para guru membantu mendidik anak-anak dengan cara terbaik, perbaiki komunikasi, kerja sama, dan saling menghargai," kata Abdul Mu'ti dalam siaran daring Upacara Peringatan HGN 2025, Selasa (25/11/2025).
Baca Juga: Orang Tua Ambil Alih Peran Petugas Upacara, Peringatan Hari Guru di SMAN 53 Jakarta Jadi Sorotan Mendikdasmen menggambarkan guru sebagai agen pembelajaran sekaligus agen peradaban, yang memikul tanggung jawab besar dalam membangun nalar kritis, membentuk akhlak, dan menjaga kejernihan hati murid.
Namun, kompleksitas persoalan yang dihadapi siswa kini semakin beragam, mulai dari tantangan akademik hingga masalah sosial, moral, dan ketergantungan pada gawai atau judi online.
"Saya mengimbau masyarakat, orang tua, dan semua pihak, agar menghargai jerih payah para guru," imbuhnya.
Selain itu, Abdul Mu'ti mengajak para guru untuk memperkuat motivasi, meneguhkan jati diri, dan meluruskan niat dalam menjalankan profesi.
Guru ideal, menurutnya, memiliki tiga modal penting:
Stamina intelektual – untuk menghadapi tantangan akademik.
Stamina sosial – untuk menjalin komunikasi dan kolaborasi dengan siswa dan orang tua.
Stamina moral – untuk menjadi teladan dalam akhlak dan integritas.
Mendikdasmen menekankan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya bergantung pada guru, tetapi sinergi antara sekolah dan keluarga.