JAKARTA– Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menginstruksikan evaluasi menyeluruh terhadap keamanan dan kelayakan konstruksi bangunan pendidikan di seluruh Indonesia, termasuk pondok pesantren (ponpes). Langkah ini diambil menyusul insiden ambruknya bangunan Ponpes Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, yang menelan korban jiwa.
Pratikno menegaskan bahwa pemerintah memandang peristiwa tersebut sebagai bencana non-alam akibat kegagalan teknologi yang harus menjadi pelajaran penting bagi semua pihak.
"Ambruknya bangunan Ponpes Al Khoziny di Sidoarjo menjadi bencana non-alam dengan korban meninggal dunia terbanyak sepanjang tahun 2025. Ini harus menjadi perhatian kita semua agar tidak terulang di kemudian hari," ujar Pratikno dalam keterangannya di Jakarta, dikutip dari Antara, Sabtu (11/10/2025).
Baca Juga: Update! Basarnas Temukan 54 Jenazah Korban Runtuhnya Bangunan Ponpes Al-Khoziny Sidoarjo Dalam rapat tingkat menteri yang digelar pada Jumat (10/10), Pratikno menekankan pentingnya sinergi lintas kementerian dan lembaga dalam memastikan seluruh fasilitas pendidikan dan keagamaan memiliki struktur bangunan yang aman, layak, dan sesuai standar teknis.
Ia menyebut, kementerian terkait seperti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan, BNPB, Basarnas, serta pemerintah daerah, perlu memperkuat koordinasi dalam pengawasan dan evaluasi bangunan pendidikan.
"Perlu dilakukan penguatan koordinasi antarinstansi agar setiap proses pembangunan fasilitas pendidikan dan keagamaan dapat memenuhi persyaratan teknis serta diawasi secara ketat," tegasnya.
Menurut Pratikno, upaya tersebut merupakan bagian dari langkah preventif pemerintah untuk mencegah terulangnya tragedi serupa di masa mendatang serta memastikan keselamatan siswa, santri, dan tenaga pendidik di seluruh wilayah Indonesia.*
(lp/mt)