BANDA ACEH - Dalam upaya memperkuat ketahanan sosial-ekologi kawasan pesisir, dosen STIKes Muhammadiyah Aceh menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema "Penguatan Ketahanan Sosial Ekologi Melalui Crab Bank dan Sistem Monitoring Berbasis Internet of Things (IoT) di Ulee Lheu, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh." Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai hibah Kemdiktisaintek RI.FGD tersebut berlangsung pada Sabtu, 6 September 2025, di Gedung Escape Building (Gedung Evakuasi Tsunami) Meuraxa dan dihadiri oleh 30 peserta dari masyarakat pesisir Ulee Lheu. Menurut Humas STIKes Muhammadiyah Aceh, Rina Sulicha, kegiatan ini bertujuan menyosialisasikan pentingnya pelestarian ekosistem pesisir melalui pendekatan ilmiah dan teknologi.
Paparan Ilmiah dan Dukungan Komunitas Baca Juga: Universitas Aufa Royhan Menandatangani MoU dengan RSUD Dr. Pringadi untuk Dukung Program Tridharma Perguruan Tinggi Kegiatan FGD menghadirkan para dosen ahli dari STIKes Muhammadiyah Aceh. Dalam sesi pertama, Indra Jaya, S.T., M.T. memaparkan sistem pemantauan kualitas air berbasis mikrokontroler IoT, yang mampu mendeteksi parameter penting untuk kehidupan biota laut seperti kepiting.Sementara itu, narasumber kedua, Muhammad Nawawi, S.T., M.Sc., memperkenalkan konsep Crab Bank sebagai upaya pelestarian kepiting yang populasinya mulai menurun akibat tekanan lingkungan dan aktivitas manusia.FGD ini juga dihadiri oleh Panglima Laot Aceh, Bapak Syafaat, yang menggambarkan kondisi masyarakat pesisir Ulee Lheu sebelum dan sesudah tsunami. Ia menyambut baik inisiatif pengabdian ini, karena selain melestarikan ekosistem laut, juga berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat nelayan."Kami berharap Crab Bank ini bisa menjadi solusi jangka panjang bagi pelestarian kepiting dan keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir," ujar Panglima Laot.
Crab Bank Berbasis IoT: Inovasi untuk Keberlanjutan