JAKARTA –Situasi politik menjelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jakarta 2024 semakin memanas. Terbaru, ketegangan muncul antara dua partai besar, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN), terkait dukungan untuk calon gubernur Anies Baswedan. Ketegangan ini mencuat setelah Wakil Ketua Majelis Syuro PKS, Hidayat Nur Wahid (HNW), memberikan respons tajam terhadap pernyataan Wakil Ketua Umum PAN, Yandri Susanto.
Kontroversi Terkait Dukungan Anies Baswedan
Pada Jumat (26/7), Yandri Susanto mengungkapkan bahwa PAN tidak menutup kemungkinan untuk bergabung mendukung Anies Baswedan dalam Pilgub Jakarta. Namun, ada syarat khusus yang harus dipenuhi: Zita Anjani harus diusung sebagai calon wakil gubernur (cawagub) Anies. “PAN tidak menutup kemungkinan juga bisa bergabung dukung Anies. Tapi dengan syarat, syaratnya wakilnya dari PAN, Zita Anjani,” kata Yandri di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta.
Pernyataan ini lantas memicu tanggapan keras dari Hidayat Nur Wahid. HNW meminta agar ditanyakan kepada Koalisi Indonesia Maju (KIM), yang merupakan koalisi pendukung Anies, apakah mereka mengizinkan PAN untuk mencalonkan Anies Baswedan di Jakarta. “Coba ditanyakan ke KIM apa mereka mengizinkan PAN mencalonkan Pak Anies? Coba juga ditanyakan ke Pak Anies, apa beliau mau dipasangkan dengan Zita Anjani?” kata HNW dalam keterangan persnya pada Minggu (28/7).
Tanggapan PKS: SK Dukungan Dinyatakan Mudah
Hidayat Nur Wahid juga menanggapi perihal Surat Keputusan (SK) dukungan dari PKS kepada Anies Baswedan. Menurutnya, urusan SK merupakan hal yang mudah dan tidak perlu diributkan. “Kalau PKS soal SK untuk Anies Iman, itu perkara yang sangat mudah alias gampang. Karena memang sudah jadi keputusan,” ungkap HNW.
Lebih lanjut, HNW menyebut bahwa SK hanya diperlukan untuk pendaftaran resmi pada Pilkada, yang baru akan dibuka oleh KPU pada akhir bulan Agustus mendatang. “Dan lagi pula kenapa SK yang diributin? SK diperlukan untuk pendaftaran, dan KPU baru akan buka pendaftaran di akhir bulan Agustus kan? Jadi masih lama juga,” tambahnya.
Pertarungan di Koalisi Indonesia Maju
Ketegangan ini mencerminkan dinamika politik yang sedang berlangsung di dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM). Koalisi ini merupakan gabungan beberapa partai politik yang mendukung Anies Baswedan dalam Pilgub Jakarta. Meski PKS telah menyatakan dukungannya, pernyataan PAN yang mengajukan syarat Zita Anjani sebagai cawagub menambah kompleksitas situasi.
Sementara itu, pernyataan Yandri Susanto menunjukkan ambisi PAN untuk memperoleh posisi strategis dalam pasangan calon gubernur dan wakil gubernur. Jika PAN benar-benar menginginkan Zita Anjani sebagai cawagub, ini bisa menjadi tantangan besar bagi PKS dan KIM untuk menyeimbangkan kepentingan partai dalam koalisi.
Prospek Pilgub Jakarta 2024
Dengan berbagai dinamika politik yang sedang berkembang, Pilgub Jakarta 2024 dipastikan akan menjadi ajang pertarungan sengit antara berbagai kekuatan politik. Dukungan dan strategi dari partai-partai besar seperti PKS dan PAN akan memainkan peran krusial dalam menentukan siapa yang akan memimpin Jakarta untuk lima tahun ke depan.
Kesimpulan
Ketegangan antara PKS dan PAN mengenai dukungan untuk Anies Baswedan dalam Pilgub Jakarta mencerminkan ketidakpastian dan dinamika politik yang mempengaruhi koalisi dan calon-calon yang ada. Proses politik ini akan terus berkembang, dan keputusan akhir mengenai pasangan calon serta dukungan partai akan mempengaruhi lanskap politik di ibu kota negara.
(N/014)