MEDAN - Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) melakukan mitigasi di enam daerah yang dinilai rawan bencana sepanjang 2026. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko bencana, dampak kerusakan, hingga potensi korban jiwa.
Enam daerah yang menjadi sasaran mitigasi yakni Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Kota Tanjungbalai, Kabupaten Samosir, Kabupaten Deliserdang, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), dan Kabupaten Toba.
Dari enam daerah tersebut, kegiatan mitigasi telah dilaksanakan di Tapteng dan Tanjungbalai.
Baca Juga: Resmikan Jembatan Bailey Pulihkan Akses Tapteng, Gubernur Bobby Tancap Gas Gelontorkan Modal Usaha untuk Warga Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut Manutur P Naibaho mengatakan masyarakat di daerah rawan bencana dilatih untuk mampu melakukan evakuasi secara mandiri.
"Kita latih dan mengajari mereka membuat jalur evakuasi. Tujuannya untuk mendidik masyarakat agar mampu mengevakuasi mandiri, mengenalkan bencana dan menyiapkan diri ke lokasi mana mereka akan dievakuasi," kata Manutur setelah mengikuti temu pers di Kantor Gubernur Sumut, Jumat (4/9/2026).
Menurut dia, kegiatan mitigasi meliputi pemetaan wilayah dengan membuat peta kawasan rawan bencana, seperti banjir, tanah longsor, dan gempa bumi berdasarkan kondisi geografis masing-masing daerah.
BPBD juga melakukan sosialisasi serta edukasi kepada masyarakat melalui penyuluhan. Selain itu, warga diberikan simulasi dan pelatihan evakuasi mandiri, termasuk uji coba alat peringatan dini atau Early Warning System (EWS).
Upaya mitigasi juga dilakukan dengan mendorong penyusunan tata ruang yang memperhatikan tingkat risiko bencana di setiap wilayah.
Sementara itu, Kepala BPBD Sumut Tuahta Ramajaya Saragih mengatakan terdapat 14 jenis kejadian bencana yang berpotensi terjadi di Sumut.
Berdasarkan data periode 1 Januari hingga 4 September 2026, cuaca ekstrem menjadi kejadian bencana yang paling banyak terjadi dengan 127 kejadian. Kemudian tanah longsor sebanyak 86 kejadian, banjir 73 kejadian, dan kebakaran hutan 47 kejadian.
"Program mitigasi adalah bagaimana cara kita untuk memenage persiapan sebelum terjadinya bencana. BPBD memiliki tiga tahap pekerjaan yakni persiapan, tanggap darurat dan pasca bencana," ujar Tuahta.
Tuahta mengatakan mitigasi pra-bencana dilakukan secara menyeluruh. Salah satunya melalui komunikasi, informasi, dan edukasi kepada pelajar maupun masyarakat.