MEDAN – Wali Kota Tanjungbalai Mahyaruddin Salim menegaskan bahwa pembangunan kota yang tangguh membutuhkan dukungan nyata dari pemerintah pusat, terutama melalui kebijakan keuangan yang mempertimbangkan kemampuan fiskal masing-masing daerah.
Pernyataan itu disampaikan Mahyaruddin saat mengikuti Dialog Kota Tangguh dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) di Ballroom Hotel Grand City Hall, Kota Medan, Rabu, 1 Juli 2026.
Menurut Mahyaruddin, tantangan pembangunan perkotaan saat ini semakin kompleks.
Baca Juga: Wakil Wali Kota Tanjungbalai Hadiri Upacara Hari Bhayangkara ke-80, Ajak Masyarakat Dukung Polri Jaga Kamtibmas Perubahan iklim, risiko bencana, hingga dinamika sosial dan ekonomi tidak dapat dihadapi hanya oleh pemerintah daerah, tetapi membutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dunia usaha, akademisi, media, dan masyarakat.
Dalam forum tersebut, Mahyaruddin menyoroti perbedaan kapasitas fiskal antardaerah yang dinilainya masih menjadi persoalan besar dalam pelaksanaan pembangunan.
"Sesuai peta aspirasi yang disampaikan mulai poin 1 s/d 8 kami mencermati tentang percepatan infrastruktur, disini saya tentunya menyampaikan setiap daerah punya fiskal yang berbeda-beda, kalau dibandingkan kami Tanjungbalai dengan Kota Medan timpang sekali gitu, mungkin kalau Kota Medan dengan Kota Denpasar bisa beti (beda tipis) sedikit aja, mungkin dengan Lampung dan seterusnya," jelasnya.
Ia menjelaskan, Kota Tanjungbalai memiliki keterbatasan sumber daya alam sehingga sangat bergantung pada sektor perikanan tangkap sebagai salah satu sumber pendapatan daerah.
Mahyaruddin mengatakan pemerintah daerah tetap dituntut meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui sektor perikanan, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), serta retribusi, sementara kebutuhan pembangunan infrastruktur terus meningkat.
"Kami yang diujung pesisir tidak punya potensi SDA, hanya mengharapkan potensi sumber pendapatan dari laut khususnya hasil perikanan tangkap. Kalau penerimaan pajak 1 s/d 1,1 Triliun, bagi hasilnya hanya 400 Juta, kita disuruh mikir gimana menghasilkan PAD dari sektor perikanan, PBB, retribusi dan sebagainya. Saat ini kondisi kami di daerah dengan ruas jalan hampir 350 KM termasuk jalan lingkungan, kita disuruh mikir supaya pembangunan di daerah maksimal, Visi Misi harus selaras dengan Asta Cita bapak Presiden dan Visi Misi Propinsi Sumatera Utara, yang jadi pertanyaan uangnya darimana harus kami buat untuk membangun jalan."
Mahyaruddin juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap pengurangan Transfer ke Daerah (TKD) yang dinilai dapat semakin membebani pemerintah daerah dengan kemampuan fiskal terbatas.
"Oleh karenanya, dengan pengurangan dana TKD tahun 2026, ini bencana juga meski kami mendapat keuntungan karena bencana di Sumut dibeberapa Kab/Kota tidak mengalami penurunan signifikan, kalaupun pemotongan TKD berlanjut pada tahun 2027 mendatang ini harus memiliki skala prioritas yang mempertimbangkan daerah daerah yang fiskal daerahnya tidak sama seperti kami, jadi harus ada hitung hitungannya, jangan main babat, potong sana sini, kami yang babak belur," tegasnya.
Ia juga menggambarkan kondisi keuangan daerah yang semakin berat setelah adanya pengurangan TKD, pemotongan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP), serta bertambahnya beban belanja pegawai.