TAPTENG– Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam upaya menata kembali ekosistem wilayah pascabencana banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah kawasan di daerah tersebut.
Penegasan itu disampaikan Masinton usai mengikuti workshop yang digelar masyarakat sipil bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) dan sejumlah instansi terkait di Tapanuli Tengah, Selasa (12/5/2026).
Dalam forum tersebut, Masinton menilai pemulihan pascabencana tidak cukup hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga harus menyentuh aspek ekologis dan keberlanjutan lingkungan.
Baca Juga: Pemkot Tanjungbalai Percepat Pembangunan Gerai KDMP/KKMP, Ini Targetnya Menurut dia, peristiwa banjir bandang dan longsor yang terjadi menjadi peringatan bahwa penataan wilayah hulu, daerah aliran sungai, hingga permukiman perlu dilakukan secara lebih terintegrasi dengan pendekatan berbasis lingkungan.
Masinton juga mengapresiasi kebijakan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang mempertahankan Tapanuli Tengah dalam kawasan Ekosistem Batangtoru.
Kebijakan itu, kata dia, menjadi dasar penting bagi pembangunan daerah yang tetap memperhatikan aspek konservasi.
"Hal ini menjadi modal krusial untuk membangun Tapanuli Tengah berbasis lingkungan hidup, terutama di kawasan hulu perbukitan," ujar Masinton.
Ia menjelaskan, karakter geografis Tapanuli Tengah yang terdiri dari perbukitan, hutan, dan aliran sungai membuat kerusakan di wilayah hulu berdampak langsung terhadap kawasan hilir.
Karena itu, pemerintah daerah mulai mendorong pendekatan agroforestry sebagai strategi jangka panjang.
Skema tersebut, kata dia, diarahkan untuk menjaga keseimbangan ekologi sekaligus membuka peluang ekonomi masyarakat melalui penanaman tanaman produktif seperti aren, durian, dan tanaman endemik lainnya.
"Pendekatan di hulu harus memberi manfaat ekonomi tanpa merusak lingkungan," kata Masinton.
Selain aspek penghijauan, pemerintah daerah juga menyoroti kebutuhan infrastruktur pengendali banjir.