MEDAN — Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengajak masyarakat menghapus stigma dan diskriminasi terhadap anak dengan down syndrome dalam peringatan Hari Down Syndrome Dunia 2026 yang digelar di Aula Raja Inal Siregar, Sabtu, 18 April 2026.
Staf Ahli I Tim Penggerak PKK Sumut, Titiek Sugiharti, mengatakan anak dengan down syndrome memiliki potensi yang sama untuk berkembang jika mendapat dukungan yang tepat.
"Anak-anak dengan down syndrome adalah anugerah yang memiliki potensi luar biasa. Mereka membutuhkan kesempatan yang sama untuk tumbuh dan belajar," kata Titiek dalam sambutannya.
Baca Juga: Akhirnya! BNI Janji Kembalikan Dana Jemaat Gereja Paroki Aek Nabara Rp 28 Miliar Minggu Ini Menurut dia, upaya menciptakan lingkungan inklusif tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan keluarga dan masyarakat.
PKK, kata dia, terus mendorong penguatan peran keluarga dalam pengasuhan, stimulasi, serta akses terhadap layanan pendidikan dan kesehatan.
"Kita ingin memastikan tidak ada satu pun anak yang tertinggal," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Sentra Bahagia Kementerian Sosial, Teguh Supriono, menilai peringatan ini harus menjadi lebih dari sekadar seremoni. Ia menekankan pentingnya aksi nyata dalam pendampingan anak dan keluarga.
"Anak-anak down syndrome memiliki hak yang sama untuk belajar, bermain, dan berkarya. Mereka tidak untuk dikasihani, tetapi diberi kesempatan," kata Teguh.
Ia juga mengakui keterbatasan fasilitas yang dimiliki Sentra Bahagia saat ini, namun berharap ke depan jangkauan layanan dapat diperluas ke berbagai daerah di Indonesia.
Acara tersebut turut dihadiri Kepala Dinas P3AKB Sumut Dwi Endah Purwanti serta Ketua Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome Umi Idayanti.
Peringatan ini juga diisi dengan penampilan anak-anak down syndrome, mulai dari bermain musik djembe, pembacaan puisi, hingga bernyanyi.
Penampilan tersebut menjadi bukti nyata bahwa mereka memiliki bakat dan kemampuan yang perlu didukung.