MEDAN — Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution menerima piagam penghargaan dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) atas dukungannya dalam Operasi SAR Darurat Bencana Hidrometeorologi di wilayah Sumut.
Penghargaan tersebut diserahkan pada Senin (30/3/2026) dalam sebuah audiensi yang berlangsung di ruang kerja Gubernur Sumut, Lantai 10 Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro, Medan.
Piagam penghargaan diberikan langsung oleh Kepala Kantor Basarnas RI Kelas A Medan, Hery Marantika, sebagai bentuk apresiasi terhadap Pemprov Sumut yang telah memberikan dukungan maksimal dalam penanganan bencana di daerah tersebut, khususnya pada bencana hidrometeorologi yang terjadi pada November 2025 lalu.
Baca Juga: Gubernur Koster Tepati Janji, Serahkan Bantuan Rp 129 Juta untuk SDN 5 Banjar Terdampak Banjir Dalam kesempatan itu, Gubernur Bobby Nasution menyampaikan rasa terima kasih atas penghargaan yang diberikan, namun ia menekankan bahwa penghargaan tersebut adalah hasil kerja sama yang baik antara berbagai pihak.
Bobby mengungkapkan bahwa Pemprov Sumut mengapresiasi sinergi yang terjalin antara Basarnas, BPBD, dan instansi terkait lainnya dalam menangani bencana, mulai dari fase tanggap darurat hingga pemulihan pascabencana.
"Penghargaan ini tidak hanya milik Pemprov Sumut, tetapi juga milik semua pihak yang telah bekerja keras dalam penanganan bencana. Sinergi ini sangat penting agar pemulihan infrastruktur dan kehidupan masyarakat dapat berjalan dengan baik," kata Gubernur Bobby.
Selain menerima penghargaan, pertemuan antara Gubernur Bobby dan Hery Marantika juga membahas pentingnya peningkatan pengetahuan kebencanaan serta upaya mitigasi.
Salah satu topik utama adalah rencana pendirian Balai Latihan Mitigasi Bencana yang bertujuan untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat, khususnya perangkat desa yang menjadi garda terdepan dalam penanganan bencana.
Bobby Nasution mendukung penuh rencana pendirian balai pelatihan ini dan menyarankan agar pelatihan mitigasi bencana diutamakan untuk perangkat desa seperti kepala dusun, kepala lingkungan, dan kepala desa/lurah.
Dengan bekal pengetahuan mitigasi bencana yang cukup, perangkat desa diharapkan dapat memimpin langkah-langkah antisipatif dan responsif terhadap bencana.
"Perangkat desa adalah ujung tombak yang paling dekat dengan masyarakat. Mereka yang paling memahami kondisi wilayahnya, sehingga pelatihan kebencanaan sangat penting untuk mereka," jelas Bobby.
Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Bobby juga mengusulkan untuk memberikan insentif atau tambahan bagi perangkat desa yang telah mengikuti pelatihan kebencanaan.