MEDAN – Pemadaman listrik di sejumlah wilayah Kota Medan dinilai mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat, khususnya umat Muslim yang menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Lembaga Advokasi dan Perlindungan Konsumen (LAPK) Sumut, Padian Adi S. Siregar, Senin (9/3/2026).
Menurut Padian, pemadaman kerap terjadi pada sore hari menjelang waktu berbuka puasa dan malam hari saat salat tarawih.
Baca Juga: 4.000 Tiket Mudik Gratis Medan Habis Diserbu Warga, Pemko Belum Tambah Kuota "Situasi ini menimbulkan ketidaknyamanan, bahkan kekecewaan, karena Ramadan adalah momentum penting bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah," ujar Padian.
Dia menambahkan, listrik bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan kebutuhan dasar vital yang memengaruhi aktivitas rumah tangga, usaha mikro dan kecil, hingga operasional fasilitas publik.
"Pada bulan Ramadan, kebutuhan listrik cenderung meningkat karena kegiatan ibadah dan sosial berlangsung hingga malam hari," katanya.
Padian menyoroti koordinasi Pemerintah Kota Medan dengan penyedia layanan listrik, seperti PT PLN (Persero), yang dinilai kurang optimal.
Menurutnya, tanpa perencanaan matang dan koordinasi yang baik, pemadaman listrik berulang dapat menimbulkan dampak lebih luas bagi masyarakat.
Selain itu, transparansi informasi terkait pemadaman listrik juga dianggap penting. Masyarakat berhak mengetahui penyebab gangguan dan langkah perbaikan yang dilakukan pihak terkait.
Informasi yang terbuka diyakini dapat mengurangi keresahan publik dan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan publik.
"Ke depan, seluruh pihak diharapkan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi listrik serta memperkuat koordinasi, terutama pada momentum penting seperti bulan Ramadan. Dengan demikian, masyarakat dapat menjalankan aktivitas dan ibadah dengan lebih nyaman dan khusyuk," pungkas Padian.*
(dh)