NIAS SELATAN – Setelah berbulan-bulan lumpuh akibat longsor, ruas jalan Teluk Dalam–Lolowau di Desa Lolozaria, Kecamatan Amandraya, Kabupaten Nias Selatan, kini kembali bisa dilintasi kendaraan.
Proyek penanganan longsoran jalan yang rampung pada Februari 2026 menghadirkan struktur beton penahan tanah (retaining wall) yang menstabilkan lereng rawan longsor.
Hujan deras tahun-tahun sebelumnya menyebabkan tanah di lereng ambrol dua kali, memutus jalur vital yang menghubungkan Teluk Dalam dan Lolowau. Akses jalan lumpuh, distribusi barang tersendat, dan aktivitas warga di Kecamatan Amandraya terganggu.
Baca Juga: 29 Desa di Sumatera Hilang Akibat Bencana, DPR dan Pemerintah Mulai Verifikasi Foto dokumentasi 2024 memperlihatkan badan jalan tergerus dan tebing yang retak, meninggalkan kondisi rapuh yang membahayakan pengguna jalan.
Proyek penanganan permanen dilakukan dengan memperkuat lereng dan menanam pondasi tiang bor untuk menopang dinding beton.
Menurut Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.6 Provinsi Sumatera Utara, penanganan ini penting untuk menjaga konektivitas wilayah sekaligus menopang ekonomi lokal.
"Jalan bukan sekadar lintasan kendaraan, tapi penghubung antar-kecamatan yang menopang perdagangan dan distribusi barang kebutuhan pokok," ujar PPK tersebut.
Kontraktor pelaksana, CV Surya Sejahtera Perkasa, menyatakan bahwa retaining wall kini memasuki masa pemeliharaan.
Monitoring berkala dilakukan untuk memastikan stabilitas lereng, terutama saat curah hujan tinggi. Perusahaan menegaskan bahwa pengawasan ini bukan sekadar kewajiban kontrak, tetapi tanggung jawab profesional untuk mencegah potensi bencana.
Bagi masyarakat Nias Selatan, tersambungnya kembali ruas jalan ini berarti aktivitas perdagangan dan pelayanan publik dapat berjalan normal.
Jalan yang dulu terputus kini menjadi penanda bahwa konektivitas wilayah tetap dijaga, sekaligus bukti kerja teknis, anggaran publik, dan harapan warga yang dipertaruhkan.
Meski demikian, stabilitas lereng di Nias Selatan tetap menjadi pekerjaan jangka panjang. Beton dan retaining wall hanyalah langkah awal dalam menghadapi kontur perbukitan dan hujan deras yang menjadi tantangan rutin di wilayah ini.*