TAPANULI SELATAN – Kelurahan Sipirok Godang, Kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan, menyimpan sejarah panjang yang membentang dari alam hingga budaya Batak Angkola.
Terletak di ketinggian sekitar 937 meter di atas permukaan laut, wilayah ini dikenal dengan udara sejuk, ketenangan, sekaligus kekayaan nilai sosial dan sejarah.
Asal-usul nama Sipirok Godang diyakini berasal dari bahasa Batak Angkola: "Si" (kata sandang), "Pirdot" (jenis kayu), dan "Godang" (besar).
Baca Juga: BRI Salurkan Bantuan Sembako untuk Nasabah dan Agen BRILink Terdampak Banjir di Tapanuli Selatan Dahulu dikenal sebagai Sidaludalu Julu, kawasan ini pertama kali dibuka saat kayu pirdot melimpah.
Nama Si Pirdot Godang kemudian disederhanakan menjadi Sipirok Godang.
Sejarah lokal juga tercermin pada Masjid Sri Alam Dunia, dibangun 1926.
Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid menjadi pusat aktivitas sosial-keagamaan dan tercatat sebagai ruang pergerakan ulama menentang kolonialisme Belanda pada 1930-an.
Saat ini, masyarakat setempat menggantungkan hidup pada sektor pertanian, perdagangan, serta kerajinan tradisional seperti manik-manik dan tenun. Nilai gotong royong masih menjadi ciri khas kehidupan sosial warga.
Semangat kebersamaan itu tampak dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kelurahan Sipirok Godang, Selasa (27/1/2026) di Aula Kantor Kelurahan.
Acara dihadiri Camat Sipirok Sahruddin Perwira, S.Sos., MM, Lurah Damayanti Siregar, S.Sos., Babinsa, Bhabinkamtibmas, tokoh masyarakat, dan warga.
Musrenbang dibuka Ketua LPMK Gozali Isa, dilanjutkan sambutan Camat.
Ia menekankan Musrenbang sebagai forum strategis dan partisipatif untuk menyelaraskan aspirasi masyarakat dengan kebijakan pembangunan daerah.