BANDA ACEH – Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, menerima audiensi Forum Solidaritas Aceh di Posko Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Pemerintah Aceh, Jumat (9/1/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Sekda memaparkan langkah strategis pemerintah dalam penanganan pascabencana, termasuk perpanjangan masa tanggap darurat hingga 22 Januari 2026.
Menurut M. Nasir, Pemerintah Aceh menyusun program Quick Win selama 14 hari ke depan, serta program lanjutan selama 30 hari untuk percepatan pemulihan.
Baca Juga: Kodim Jakarta Utara Latih 67 Prajurit Operasikan Mobil Damkar, Tingkatkan Kesiapsiagaan Kebakaran Fokus pemulihan dibagi dalam enam klaster utama: pencarian dan pertolongan, logistik, pengungsian dan perlindungan, kesehatan, pendidikan, dan pemulihan wilayah.
Pada klaster logistik, pemerintah mengoptimalkan distribusi bantuan hingga ke wilayah pedalaman yang terisolasi.
Selain air drop, bantuan kini dijangkau melalui relawan motor trail dan kendaraan offroad.
Sementara untuk pengungsian, perhatian diberikan pada pembangunan Hunian Sementara (Huntara) dan Hunian Tetap (Huntap) dengan pengawasan Pemerintah Aceh dan kabupaten.
Di sektor kesehatan, sebagian besar rumah sakit dan puskesmas di wilayah terdampak telah kembali beroperasi, dibantu tenaga kesehatan dari seluruh Indonesia.
Sedangkan klaster pendidikan mendapat perhatian khusus karena banyak fasilitas sekolah rusak.
Pemerintah Aceh mengalokasikan anggaran untuk seragam, buku, dan meubeler sekolah, serta menurunkan 4.000 ASN ke Aceh Tamiang untuk membersihkan sekolah dan dayah, memastikan proses belajar mengajar kembali berjalan optimal.
Lebih lanjut, pemerintah tengah menyusun Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) sebagai panduan pembangunan infrastruktur dan pemulihan sosial-ekonomi masyarakat.
M. Nasir menekankan, fokus utama R3P adalah normalisasi sungai dan pembersihan lingkungan untuk mengurangi risiko banjir di masa depan.