BIREUEN – Sebanyak 23 amil Baitul Mal Aceh (BMA) melaksanakan kegiatan gotong royong membersihkan sarana dan prasarana perkantoran pemerintah yang terdampak bencana hidrometeorologi di Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, Senin–Selasa (28–29 Desember 2025).
Kegiatan tersebut dipimpin Anggota Badan BMA Fahmi M. Nasir bersama Pelaksana Tugas Kepala Sekretariat BMA Didi Setiadi.
Sejumlah fasilitas publik menjadi sasaran pembersihan, di antaranya Kantor Camat Peusangan Siblah Krueng dan Puskesmas setempat yang terdampak banjir dan lumpur.
Baca Juga: XLSMART–KOMDIGI Pulihkan Lebih 95 Persen Jaringan Telekomunikasi di Aceh Pascabanjir Fahmi mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian dan tanggung jawab sosial BMA dalam mendukung pemulihan pascabencana, khususnya agar layanan publik dapat kembali berjalan normal.
"Bencana banjir dan cuaca ekstrem tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengganggu aktivitas pemerintahan dan pelayanan dasar masyarakat," ujarnya.
Para amil BMA bersama unsur Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA) membersihkan lumpur, sampah, serta sisa material banjir yang menghambat operasional perkantoran dan fasilitas kesehatan.
Menurut Fahmi, keterlibatan langsung BMA menjadi wujud kehadiran lembaga dalam situasi darurat dan masa pemulihan.
"Baitul Mal Aceh tidak hanya berperan dalam penyaluran zakat dan infak, tetapi juga hadir langsung membantu masyarakat dan pemerintah daerah," katanya.
Plt Kepala Sekretariat BMA, Didi Setiadi, menambahkan kegiatan gotong royong tersebut merupakan bagian dari sinergi lintas instansi yang digagas Pemerintah Aceh untuk mempercepat pemulihan sarana pemerintahan.
"Kami berupaya agar layanan kesehatan dan administrasi publik dapat segera kembali optimal," ujarnya.
Gotong royong ini melibatkan sejumlah SKPA, di antaranya Dinas Pertanahan Aceh, Dinas Registrasi Kependudukan Aceh, Majelis Pendidikan Aceh, Dinas Pemuda dan Olahraga, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Badan Kesbangpol Aceh, serta Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah.
Menurut Fahmi, semangat gotong royong merupakan nilai kearifan lokal Aceh yang perlu terus dijaga, terutama dalam menghadapi musibah bersama. "Dengan kebersamaan, beban pascabencana akan terasa lebih ringan," katanya.*