JAWA BARAT — Apa yang dilakukan Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi, bukan sekadar transparansi. Ini ledakan keras yang mengguncang kebiasaan lama birokrasi.
Untuk pertama kalinya, keuangan daerah dibuka ke publik secara terang-benderang, seolah menyatakan satu pesan jelas: tidak ada lagi yang perlu disembunyikan.
Langkah ini sontak membuat publik bertanya-tanya. Selama ini uang rakyat dikelola, tetapi rakyat hanya diminta percaya.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Jawa Barat Hari Ini, Selasa 16 Desember 2025: Sebagian Besar Wilayah Hujan Ringan Kini situasinya terbalik, rakyat disuguhi data, angka, dan fakta.
Media sosial pun mendidih. Dukungan mengalir deras, bercampur dengan sindiran pedas:
"Kalau bisa dibuka sekarang, selama ini yang ditutup apa?"
Kebijakan ini dinilai bukan hanya berani, tapi juga berbahaya bagi zona nyaman birokrasi.
Transparansi berarti satu hal: pengawasan total dari publik. Dan tidak semua pihak siap hidup di bawah sorotan.
Pengamat menyebut langkah Kang Dedi seperti menarik tirai besar yang selama ini menutupi panggung pengelolaan anggaran.
Begitu tirai dibuka, tidak ada lagi ruang abu-abu. Semua akan terlihat jelas, baik yang rapi, maupun yang janggal.
Kini bola panas ada di tangan kepala daerah lain.
Apakah mereka siap mengikuti langkah ini? Atau justru memilih diam karena takut apa yang terbuka akan berbicara terlalu banyak?