KLUNGKUNG – Duta Percepatan Penanganan Sampah Berbasis Sumber (PSBS) Provinsi Bali, Putri Suastini Koster, menyerukan perubahan pola pikir masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga agar dapat diselesaikan di sumbernya.
Seruan ini disampaikan saat kegiatan Sosialisasi Percepatan PSBS dan Pembatasan Sampah Sekali Pakai di Balai Desa Batununggul, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Rabu (12/11).
Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua TP PKK Kabupaten Klungkung Ny. Eva Satria, anggota DPRD Klungkung, Camat Nusa Penida I Kadek Yoga Kusuma, para perbekel, manggala pakis, serta Tim Kerja Percepatan PSBS Provinsi Bali.
Baca Juga: Putri Koster Lakukan Persembahyangan di Pura Dalem Ped Nusa Penida, Serahkan Dupa Organik untuk Pemangku Dalam sambutannya, Putri Koster, tampil anggun mengenakan kain tenun rangrang khas Nusa Penida, memberikan apresiasi terhadap kearifan lokal yang diwariskan leluhur.
"Betapa hebatnya leluhur kita membuat tenun yang luar biasa. Saya mendorong agar tenun rangrang memiliki hak cipta indikasi geografis. Harus dibuat di Nusa Penida saja agar nilai budayanya tetap lestari," ujarnya.
Sebagai Duta PSBS, ia menjelaskan bahwa gerakan ini merupakan bagian dari Gerakan Palemahan Kedas, program strategis yang bertujuan menjaga kebersihan lingkungan Bali dari hulu hingga hilir.
"Ini kecamatan ke-51 yang kami sambangi. Target kami, November selesai sosialisasi, Desember evaluasi, dan tahun 2026 masuk tahap monitoring," ungkapnya.
Putri Koster menyoroti persoalan TPA Suwung di Denpasar yang kini menjadi simbol kegagalan pengelolaan sampah terpusat.
"Empat kabupaten/kota membuang sampah di lahan 32 hektare di Suwung hingga membentuk gunung sampah setinggi 35 meter. Itu musibah lingkungan dan kesehatan. Jangan sampai Nusa Penida mengalami hal serupa," tegasnya.
Ia menegaskan bahwa Bali telah memiliki payung hukum kuat melalui Pergub No. 97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Sampah Plastik Sekali Pakai, serta Pergub No. 47 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber.
"Regulasi sudah ada, tapi tak boleh berhenti di atas kertas. Kita perlu implementasi nyata dengan gotong royong pemerintah dan masyarakat," katanya.
Dalam sesi paparan, Putri Koster mengajak masyarakat untuk mengubah paradigma terhadap sampah.