DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster menerima kunjungan kerja Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI di Gedung Sabha, Jayasabha, Denpasar, Kamis (23/10).
Kunjungan bertema "Diplomasi Budaya dan Pembangunan Lestari" ini menyoroti posisi strategis Bali sebagai ujung tombak diplomasi pariwisata Indonesia sekaligus penyumbang devisa terbesar nasional.
Ketua BKSAP DPR RI, Mardani Ali Sera, menyampaikan dukungan penuh terhadap penguatan kekhususan Bali, termasuk perlindungan terhadap nilai-nilai budaya dan lingkungan.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Bali Hari Ini, Jumat 24 Oktober 2025: Sejumlah Wilayah Diguyur Hujan "Kami sangat mendukung kekhususan Bali dengan regulasi yang memperkuat eksistensi dan kelestariannya. Bali bukan hanya indah, tapi juga berperan penting dalam diplomasi budaya Indonesia," ujar Mardani.
Senada dengan itu, anggota BKSAP sekaligus anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Irene Yosiana, menilai Bali layak mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah pusat mengingat kontribusinya yang signifikan terhadap devisa nasional.
"Sekitar tujuh persen devisa nasional berasal dari Bali. Namun investasi asing sering kali justru menyulitkan masyarakat lokal. Arah pariwisata Bali ke depan harus sustainable dan berpihak pada rakyat," tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Wayan Koster menegaskan pentingnya dukungan pusat untuk pembangunan infrastruktur dan kebijakan berkelanjutan yang berpihak pada budaya serta lingkungan.
"Bali kecil, tapi 'khasiatnya' besar. Kami menyumbang lebih dari 53 persen devisa pariwisata nasional, tapi infrastruktur kami justru masih kurang mendapat perhatian," kata Koster.
Koster memaparkan, hingga Oktober 2025, jumlah wisatawan mancanegara ke Bali mencapai 5,7 juta orang, dan diperkirakan menembus 7 juta pada akhir tahun
Tahun sebelumnya, Bali mencatat 6,9 juta wisatawan dengan nilai devisa mencapai Rp167 triliun, atau 53 persen dari total devisa pariwisata nasional sebesar Rp312 triliun.
"Spending money wisatawan di Bali mencapai 1.630 dolar AS per orang, jauh di atas rata-rata nasional. Ini menunjukkan keunggulan Bali sebagai destinasi premium dunia," ujarnya.
Meski demikian, Koster menyoroti sejumlah tantangan seperti keterbatasan infrastruktur, pengelolaan sampah, serta ketimpangan fiskal antara kontribusi Bali dan alokasi anggaran dari pemerintah pusat.