JABAR– Kasus dugaan keracunan massal akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mencuat. Kali ini, peristiwa tersebut terjadi di Cianjur, Jawa Barat, dan menambah daftar panjang kasus serupa yang telah terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
Insiden ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya, kasus serupa tercatat telah terjadi di Nganjuk, Sukoharjo, Nunukan, Pandeglang, Waingapu, dan Batang.
Meskipun tujuan program MBG adalah memberikan asupan gizi kepada pelajar, sederet kejadian ini memunculkan pertanyaan besar tentang kualitas dan pengawasan makanan yang disajikan.
Warganet pun merespons keras kejadian ini di berbagai platform media sosial. Bahkan, sejumlah pengguna menyindir program tersebut sebagai "Makan Beracun Gratis".
"Apakah keracunan siswa karena makan bergizi gratis yang terus berulang akan dimaklumi lagi? Ini sebenarnya makan bergizi gratis atau makan beracun gratis," tulis seorang warganet di platform X (sebelumnya Twitter).
Beberapa komentar lainnya bahkan menyarankan agar pemerintah menghentikan program tersebut dan mengalihkan fokus anggaran ke sektor pendidikan.
"Pemerintah harusnya stop makan beracun gratis dan ganti jadi pendidikan gratis," tulis komentar lain yang viral.
Belum ada keterangan resmi dari pemerintah pusat terkait evaluasi menyeluruh program MBG. Namun publik menanti langkah konkret pemerintah dalam menjamin keamanan makanan, terutama yang dikonsumsi anak-anak di sekolah.
Insiden di Cianjur pada 22 April 2025 ini diharapkan menjadi momentum refleksi atas pelaksanaan program yang niatnya mulia, namun harus dieksekusi dengan standar yang lebih ketat dan pengawasan menyeluruh.*
(gn/J006)