JAKARTA – Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, membandngkan pendekatan dua tokoh politik, Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto, terkait penanganan tingginya harga kebutuhan pokok dalam sebuah acara kampanye di Lebak, Banten.
Hasto menyoroti perbedaan strategi yang diambil oleh keduanya dalam menghadapi tantangan ekonomi.
Menurut Hasto, Ganjar Pranowo, calon presiden nomor urut 3, telah merumuskan program bernama “KTP Sakti,” yang merupakan singkatan dari “Satu Kartu Terpadu Indonesia.” Program ini diungkapkan oleh Ganjar Pranowo sebagai solusi terhadap berbagai masalah yang dihadapi wong cilik atau rakyat kecil, mencakup aspek pendidikan dan kesehatan. Hasto menjelaskan bahwa KTP Sakti menjadi satu kartu terpadu yang memungkinkan rakyat miskin untuk mengakses berbagai layanan dengan lebih mudah, menggantikan kebutuhan akan banyak kartu yang sebelumnya digunakan.
https://youtu.be/HBF6fL_AXcU
Di sisi lain, Hasto juga menyoroti pendekatan yang diambil oleh Prabowo Subianto terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok. Menurut Hasto, Prabowo mengusulkan solusi yang melibatkan kenaikan pinjaman luar negeri, yakni utang sebesar Rp385 triliun untuk keperluan alutsista (alat utama sistem persenjataan). Hal ini menciptakan perbedaan strategi yang signifikan antara kedua calon presiden.
Hasto Kristiyanto menegaskan bahwa perbedaan inilah yang menjadi poin krusial dalam perbandingan antara Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto dalam menanggapi isu ekonomi dan harga kebutuhan pokok. Sementara Prabowo mengusulkan pendekatan melalui peningkatan utang luar negeri, Ganjar Pranowo menawarkan solusi yang lebih terpadu melalui program KTP Sakti. (Ayu lestari)