JAKARTA -Sejak putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait sengketa perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) Pilpres 2024, spekulasi dan harapan akan pertemuan antara Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, dengan Presiden terpilih Prabowo Subianto semakin menguat. Namun, hingga kini pertemuan tersebut belum terjadi.
Politikus PDI Perjuangan, Aryo Seno Bagaskoro, membuka suara terkait hal ini. Menurutnya, PDIP sedang mencermati dinamika politik terkini yang mencerminkan bagi-bagi kekuasaan di tengah kondisi geopolitik global yang tidak stabil, melemahnya kurs rupiah, dan berbagai tantangan dalam ranah demokrasi yang memerlukan perhatian serius.
“Mencermati dinamika politik akhir-akhir ini, kami menyayangkan kekuasaan hanya dimaknai sebagai upaya bagi-bagi kekuasaan. Setidaknya, itu yang ditangkap oleh publik,” ujar Seno kepada
Dalam konteks ini, Megawati Soekarnoputri secara rutin bertemu dengan tokoh-tokoh yang menekankan penguatan sendi kebangsaan dan konsolidasi demokrasi. Namun, fokus PDIP saat ini juga terarah pada upaya mereparasi situasi demokrasi pasca-Pemilu 2024 yang diwarnai berbagai penyakit.
Seno menyoroti beberapa aspek yang menjadi perhatian, terutama terkait putusan PHPU Pilpres yang menghadirkan dissenting opinion dari beberapa hakim MK. Isu-isu seperti nepotisme, penyalahgunaan kekuasaan, dan mobilisasi instrumen kekuasaan menjadi sorotan serius dalam upaya reparasi ini.
Lebih lanjut, PDIP tengah berupaya memperkuat pelembagaan partai melalui kaderisasi dan konsolidasi menuju Pilkada yang akan datang. Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang direncanakan pada Mei 2024 menjadi momentum penting untuk menyatukan visi dan langkah-langkah strategis partai dalam menghadapi dinamika politik yang kompleks.
Dalam konteks ini, pertemuan antara Megawati dan Prabowo, meskipun ditunggu, tidak dijadikan fokus utama. PDIP lebih memprioritaskan upaya-upaya konstruktif dalam memperbaiki landasan demokrasi dan menjaga integritas politik di tengah gejolak yang melanda.
Dengan demikian, sikap PDIP yang cermat dan proaktif dalam menanggapi dinamika politik, serta fokus pada reparasi demokrasi, menjadi sorotan penting dalam upaya membangun tatanan politik yang lebih sehat dan berkualitas di Indonesia.
(N/014)