Dedi Mulyadi Ungkap Tak Ada Partai Abadi di Jawa Barat

BITVonline.com - Senin, 05 Agustus 2024 06:50 WIB

JAWA BARAT  –Pemilihan Gubernur Jawa Barat menjadi sorotan hangat kembali ketika Bacagub Dedi Mulyadi mengungkapkan pandangannya terhadap proses pencarian calon pendampingnya. Dalam pernyataannya, Dedi menegaskan bahwa faktor latar belakang tidak menjadi hambatan utama dalam menentukan siapa yang akan mendampinginya dalam perhelatan politik mendatang.

Dalam wawancara pada Senin (5/8), Dedi menanggapi usulan beberapa pihak yang menyarankan untuk mencari ulama dari timur Jawa Barat guna memperkuat basis dukungan politiknya. Namun, Bacagub yang juga dikenal dengan pendekatan populisnya mengungkapkan pandangan yang berbeda.

“Saya pikir enggak begitu, saya tiap hari berkeliling. Kita kan ada data tersaji, tidak terlalu problem terhadap pribadi latar belakang. Orang Jabar menerima profil dan latar belakang mana pun,” ungkap Dedi.

Pernyataannya tersebut menunjukkan bahwa Dedi lebih memilih untuk fokus pada keterbukaan terhadap berbagai profil dan latar belakang calon pendampingnya. Ia menegaskan bahwa warga Jawa Barat memiliki sikap yang rasional dan menerima siapa pun yang dianggap mampu memimpin daerah ini dengan baik.

“Saya tidak memiliki kriteria khusus untuk calon wakil. Warga Jabar realistis,” tambahnya.

Dedi juga mencontohkan bahwa dalam sejarah kepemimpinan sebelumnya, seperti Ahmad Heryawan dan Dedi Mizwar, warga Jawa Barat telah menerima dengan baik pemimpin dari berbagai latar belakang. Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa politik di Jawa Barat dinamis dan tidak terpaku pada satu jenis profil atau latar belakang tertentu.

“Dari sejarah kepemimpinan juga. Waktu itu Pak Aher (Ahmad Heryawan) sama Dedi Mizwar kan orang Jabar terima saja. Orang Jabar terbuka, welcome dengan siapa pun. Orang Jabar sangat rasional, politik kan rasional berubah setiap pemilu,” paparnya.

Lebih lanjut, Dedi menjelaskan bahwa hasil perolehan suara partai politik dalam Pemilu Legislatif menunjukkan dinamika yang tinggi setiap lima tahunan. Ia menyebutkan contoh bahwa pada tahun 2024, Golkar menjadi pemenang, sementara pada tahun 2019, Gerindra mendominasi.

“Perolehan suara parpol di Pileg tiap 5 tahunan dinamis. Tahun 2024 Golkar menjadi jawara, sementara di 2019 Gerindra yang teratas. Itu merupakan bukti bahwa pemilih di Jabar tak terlalu memusingkan latar belakang. Suasananya pun cair,” jelasnya.

Dedi juga mengakui bahwa meskipun ada beberapa individu yang memiliki pendapat yang keras, namun jumlah mereka relatif kecil. Namun, mereka mampu bersuara dengan lantang dalam pilihan politik mereka.

“Memang ada yang punya karakter kekeh ada, tapi jumlahnya kecil. Tapi mereka bersuaranya lantang. Secara umum orang Jabar rileks, pilihan politik cair,” tutup Dedi.

Pernyataan Dedi Mulyadi ini menggambarkan pendekatan politiknya yang inklusif dan terbuka terhadap berbagai kalangan, tanpa memandang asal usul atau latar belakang khusus. Hal ini menunjukkan bahwa dalam politik Jawa Barat, substansi dan kapabilitas dalam memimpin lebih diutamakan daripada faktor identitas atau latar belakang pribadi.

(N/014)

Editor
:
Sumber
:

Tag:

Berita Terkait

Pemerintahan

HUT ke-78 Sumut, Bobby Nasution Pimpin Ziarah di TMP Bukit Barisan Medan: Lanjutkan Perjuangan Pahlawan untuk Masa Depan

Pemerintahan

HUT ke-78 Sumut, Bobby Nasution Tekankan Pentingnya Kolaborasi untuk Pembangunan Berkelanjutan

Pemerintahan

Program 3 Juta Rumah Prabowo Terus Dikebut, Ini Capaian, Skema KPR Murah, dan Target Terbarunya

Pemerintahan

Rusia Siap Pasok BBM dan LPG ke RI, ESDM: Skema Kerja Sama Masih Dibahas Tim Teknis

Pemerintahan

Program Berlayar Hadir di Air Putih, Bapenda Batu Bara Permudah Layanan Pajak hingga Administrasi Warga

Pemerintahan

Prabowo Tiba di Indonesia Usai Kunker ke Rusia dan Prancis, Disambut Gibran di Halim