MEDAN — Danau Toba, Sumatera Utara, menghadapi ancaman musim kering yang dapat memengaruhi ketersediaan air dan elevasi danau.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Perum Jasa Tirta (PJT) I melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Operasi tersebut berlangsung selama 25 hari, mulai 21 September hingga 15 Oktober 2026.
Baca Juga: Kabar Terbaru Febiona Purba, Korban Keracunan MBG di Karo: Kini Kembali Bersekolah, Kondisinya Disebut Membaik Pelaksanaan OMC dilakukan melalui Bandara Silangit dengan sasaran Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba serta wilayah perairannya.
Direktur Operasional PJT I Milfan Rantawi mengatakan operasi tersebut dilakukan untuk mengoptimalkan potensi hujan sekaligus menjaga ketersediaan air di Danau Toba.
"Operasi ini ditujukan untuk mengoptimalkan potensi hujan sekaligus menjaga ketersediaan air dan elevasi Danau Toba pada kisaran 902,04 meter," ungkap Direktur Operasional PJT I Milfan Rantawi, Senin (21/9/2026).
Milfan mengatakan pelaksanaan modifikasi cuaca mempertimbangkan kondisi iklim yang berkembang.
Salah satunya adalah fenomena El Nino yang berpeluang mencapai intensitas moderat hingga kuat.
Selain itu, terdapat fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga Desember 2026.
"Wilayah DTA Danau Toba memasuki musim kemarau sejak pertengahan Mei dengan curah hujan pada Juli-Agustus diprediksi hanya 50-200 mm per bulan. Sifat hujan pada Agustus-Oktober juga diprediksi di bawah normal," ujarnya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan pelaksanaan OMC untuk membantu menambah pasokan air di kawasan Danau Toba.
Direktur Operasi Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo mengatakan pelaksanaan OMC pada September-Oktober telah mempertimbangkan kondisi atmosfer dan perkembangan musim hujan.