JAKARTA — Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Lamhot Sinaga, menekankan pentingnya strategi yang serius, kolaboratif, dan berkelanjutan dalam upaya revitalisasi kawasan wisata Danau Toba.
Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara dalam diskusi publik bertajuk "Menatap Masa Depan Pariwisata Danau Toba" yang digelar Ikatan Mahasiswa/i Batak Nasional (IMEI BANA) di Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jakarta, Sabtu (14/6/2025).
Menurut Lamhot, potensi Danau Toba sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru sangat besar, namun belum digarap secara maksimal.
Ia mengkritisi pendekatan yang selama ini dianggap masih terlalu normatif dan kurang progresif.
"Kita tidak bisa setengah hati membangun Danau Toba. Negara seperti Italia dan Jepang telah membuktikan bahwa pariwisata bisa menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Indonesia punya peluang besar, dan kita harus memanfaatkannya secara serius," ujar Lamhot.
Anggota DPR RI dari Dapil Sumatera Utara II ini mendorong pengembangan strategi promosi yang agresif, sport tourism, dan penyelenggaraan event-event internasional yang terjadwal secara berkala.
Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah pusat, daerah, pelaku usaha, dan akademisi.
"Kalau kita ingin bersaing secara global, harus berani keluar dari zona nyaman. Event besar perlu digelar, promosi harus agresif, dan ekosistem investasi pariwisata harus ramah serta berkelanjutan," tambahnya.
Lamhot juga menyoroti kontribusi besar sektor pariwisata terhadap devisa negara yang bahkan melampaui sektor migas.
Ia menyatakan kesiapannya di DPR untuk memperjuangkan regulasi yang pro-investasi di kawasan Danau Toba.
Dalam forum yang sama, Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT), Jimmy Panjaitan, membeberkan tantangan utama dalam menarik investor, termasuk jangka waktu investasi yang dinilai belum menarik.