Massa PDIP Tuntut Pengakuan Peristiwa Kudatuli Sebagai Pelanggaran HAM Berat

Redaksi - Sabtu, 27 Juli 2024 05:53 WIB

JAKARTA –Massa yang mayoritas terdiri dari kader dan simpatisan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Komnas Hak Asasi Manusia (HAM) Jalan Latuharhary, Jakarta Pusat, pada Jumat ini. Mereka menggugah ingatan publik terhadap Peristiwa Kudatuli yang berlangsung pada tanggal 27 Juli 1996, meminta pemerintah mengakui tragedi tersebut sebagai pelanggaran HAM berat.

Aksi massa ini diwarnai dengan pakaian serba hitam yang bertuliskan ‘KUDATULI #kamitidaklupa‘, sebuah ungkapan solidaritas untuk mengenang peristiwa berdarah yang mengguncang bangsa pada masa Orde Baru. Para peserta aksi juga membawa poster dengan wajah-wajah aktivis pro-reformasi yang hilang atau diculik oleh aparat keamanan pada masa tersebut, seperti Wiji Thukul, Suyat, Herman Hendrawan, dan Petrus Bima Anugrah.

“27 Juli, kami tidak lupa,” teriak mereka, serentak memenuhi udara di sekitar kantor Komnas HAM, diiringi oleh sorakan solidaritas dan panggilan untuk keadilan.

Peristiwa Kudatuli sendiri merupakan salah satu capaian terburuk dari konflik politik yang terjadi antara massa yang berafiliasi dengan Megawati Soekarnoputri, pemimpin PDIP pada saat itu, dengan pendukung Soerjadi, yang juga mengklaim kepemimpinan atas partai tersebut. Perebutan kantor DPP PDIP di Jakarta, pada 27 Juli 1996, berakhir tragis dengan korban jiwa yang memprihatinkan: lima orang tewas, 23 orang hilang, dan ratusan lainnya luka-luka.

Dalam menghadapi tuntutan massa, Komnas HAM terpaksa menutup sementara Jalan Latuharhary sebagai langkah pengamanan. Demonstrasi yang dipenuhi oleh semangat keadilan dan keinginan untuk mengungkap kebenaran ini diharapkan dapat memberi tekanan moral kepada pemerintah untuk mengakui bahwa Peristiwa Kudatuli adalah bagian dari sejarah kelam yang perlu diungkap kebenarannya.

Ketua PDIP, Megawati Soekarnoputri, dalam pernyataannya mendukung penuh aksi ini sebagai upaya untuk memperjuangkan pengakuan atas peristiwa berdarah yang telah terlupakan oleh sebagian besar masyarakat. Dia menekankan pentingnya memahami dan menghormati sejarah, serta menuntut keadilan bagi para korban dan keluarga yang terdampak.

Penyelenggaraan aksi ini juga menjadi momentum penting bagi PDIP untuk mengingatkan generasi muda akan pentingnya memahami dan menghormati nilai-nilai demokrasi, hak asasi manusia, dan perjuangan politik yang telah membentuk bangsa ini.

Dengan demikian, harapan akan terbuka lebar bagi Indonesia untuk menghadapi masa depan yang lebih cerah, yang didasarkan pada pengakuan terhadap masa lalu yang penuh perjuangan dan pengorbanan.

(N/014)

Editor
:
Sumber
:

Tag:

Berita Terkait

Berita

Perpres Transportasi Online Segera Terbit, Tarif Ojol Orang hingga Kirim Makanan Bakal Diatur

Berita

Hakim Tolak Pengalihan Tahanan Rumah Eks Menag Yaqut dalam Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji

Berita

HUT ke-81 RI, Titiek Sugiharti Ajak DWP Sumut Perkuat Peran Perempuan dalam Pembangunan

Berita

MoU Helsinki Genap 20 Tahun, Ini Sejumlah Janji Perdamaian Aceh yang Belum Terealisasi

Berita

Aniaya Kekasih di Pinggir Jalan Belawan, Polisi Tangkap Pria dan Temukan Tes Urine Positif Narkotika

Berita

Ditangkap Bersama Pasangan Sejenis di Ruang Kerja, Kepala Inspektorat Banda Aceh Dinonaktifkan dan Jadi Tersangka