Oleh:Andang Subaharianto
PEMBACA yang budiman tentu bertanya-tanya.
Mengapa pejabat publik di banyak negara relatif gampang berkata, "Saya mundur", bahkan oleh sebab-sebab yang terkesan sepele, sementara begitu sulit di negeri kita yang konon disebut berbudaya adulihung?
Baca Juga: Bupati Labusel Turun ke Desa Air Merah, Hadirkan Layanan Publik hingga Pasar Murah Pada tahun 1974, Richard Nixon memilih angkat kaki dari Gedung Putih demi menyelamatkan muka partainya akibat Skandal Watergate.
Ia mundur setelah bukti rekaman keterlibatannya dalam upaya menutup-nutupi kasus Watergate terbongkar.
Di Inggris, empat tahun lalu, Boris Johnson juga mundur dari jabatan Perdana Menteri.
Keputusan mundur diambil setelah diterpa berbagai skandal yang merusak integritas pemerintahannya.
Di Korea Selatan, tragedi tenggelamnya kapal Sewol mengakibatkan Perdana Menteri Chung Hong-won mundur.
Kapal itu membuat 304 nyawa melayang dari total 476 penumpang.
Perdana Menteri Latvia Valdis Dombrovskis juga mundur pada 2013. Gara-garanya tampak sepele: atap supermarket runtuh dan menewaskan 54 orang.
Bandingkan dengan Indonesia. Misalnya, tragedi kapal Tampomas II yang tenggelam di Laut Jawa sekitar perairan Masalembu pada 1981.
Sebanyak 666 orang meninggal dunia versi pemerintah (Tirto.id, 26/01/2018).
Halaman :
Warning: Undefined variable $max_pages in
/home/u604751480/domains/bitvonline.com/public_html/amp/detail.php on line
259
Warning: Undefined variable $max_pages in
/home/u604751480/domains/bitvonline.com/public_html/amp/detail.php on line
259