Oleh:Firdaus Arifin
BAYANGKAN seorang badut memasuki panggung. Sepatunya terlalu besar. Ia tersandung, lalu membesarkan geraknya untuk mengundang tawa.
Penonton mengetahui bahwa yang berlangsung adalah permainan. Mereka membeli tiket, menyerahkan waktu, lalu pulang setelah pertunjukan selesai.
Baca Juga: DPRD Batu Bara Gelar Hearing Dialog, Bahas Ranperda Pemajuan Kebudayaan Melayu Sepatu itu bagian dari pertunjukan. Tak seorang pun berharap ia memakainya untuk mengurus kehidupan sehari-hari.
Dalam politik, batas antara permainan dan pekerjaan lebih sulit dilihat. Panggung tidak selalu mempunyai tirai.
Orang yang menghibur hari ini dapat mengambil keputusan besok.
Kalimat yang mengundang tawa mungkin ikut membentuk cara masyarakat memahami persoalan yang menyangkut hidup banyak orang.
Badut mempunyai kecakapannya sendiri: mengolah gerak, kejutan, dan kegagalan menjadi hiburan.
Dalam esai ini, ia menjadi metafora bagi perilaku politik yang memperlakukan demokrasi sebagai pertunjukan.
Kritiknya tertuju pada kebiasaan mengejar perhatian publik sampai tanggung jawab luput dari pandangan.
Demokrasi membutuhkan komunikasi publik agar warga dapat mengenali dan menilai gagasan yang ditawarkan.
Komunikasi itu menjadi persoalan ketika keberhasilannya terutama diukur dari perhatian yang diraih, sementara alasan keputusan, pelaksanaan, dan akibatnya terlepas dari pemeriksaan publik.
Halaman :
Warning: Undefined variable $max_pages in
/home/u604751480/domains/bitvonline.com/public_html/amp/detail.php on line
259
Warning: Undefined variable $max_pages in
/home/u604751480/domains/bitvonline.com/public_html/amp/detail.php on line
259
Warning: Undefined variable $max_pages in
/home/u604751480/domains/bitvonline.com/public_html/amp/detail.php on line
259
Warning: Undefined variable $max_pages in
/home/u604751480/domains/bitvonline.com/public_html/amp/detail.php on line
259
Warning: Undefined variable $max_pages in
/home/u604751480/domains/bitvonline.com/public_html/amp/detail.php on line
259