Oleh: Dr. Rido Hermawan, M.Sc .
Ada pertanyaan sederhana yang belakangan ini sering muncul di ruang-ruang diskusi, warung kopi, hingga kolom komentar media sosial: mengapa bangsa yang memiliki begitu banyak pekerjaan rumah besar justru asyik memperdebatkan selembar kertas?
Hampir dua tahun energi politik negeri ini tersedot pada polemik ijazah. Berita yang berulang, debat yang tak kunjung usai, kerumunan yang terus dibentuk.
Baca Juga: BERLAYAR Hadir di Desa Perkotaan, Warga Batu Bara Bisa Urus Dokumen hingga Cek Kesehatan Sementara itu, dunia tidak pernah berhenti bergerak. Kecerdasan buatan mengubah lanskap kerja.
Rantai pasok global bergeser. Harga energi dan pangan bergejolak. Dan kita—masih di sini, memperdebatkan hal yang sama.
Tulisan ini bukan tentang siapa yang benar atau salah dalam polemik itu. Bukan pula tentang membela atau menyerang pihak tertentu. T
ulisan ini tentang kita—tentang bagaimana sebuah bangsa bisa kehilangan arah bukan karena kehilangan tujuan, tetapi karena terlalu lama menatap ke belakang.
Tentang bagaimana kita bisa begitu sibuk memperdebatkan yang ramai, hingga lupa mengurus yang penting.
Mengapa Bangsa Bisa Teralih?
Dalam ekosistem politik kita, isu identitas selalu lebih mudah dijual daripada isu kebijakan.
Isu ijazah tidak membutuhkan data, tidak memerlukan analisis mendalam, dan langsungmemicu emosi.
Ia cukup menghadirkan narasi sederhana: kita versus mereka.
Halaman :
Warning: Undefined variable $max_pages in
/home/u604751480/domains/bitvonline.com/public_html/amp/detail.php on line
259