Oleh:Werdha Candratrilaksita
DALAM aksara Jawa terdapat tanda yang disebut "pangkon". Fungsinya sederhana, tetapi menyimpan metafora yang menarik.
Aksara Jawa pada dasarnya membawa bunyi vokal. Ketika diberi pangkon, vokalnya hilang dan aksara itu menjadi konsonan mati.
Baca Juga: Perkara Gibran di MK: Memperjuangkan atau Memuja Konstitusi? Pa yang semula berbunyi, setelah dipangku tinggal p. Dari tata aksara itu berkembang ungkapan Jawa: yen dipangku mati. Yang dipangku menjadi mati.
Tentu bukan mati dalam pengertian kehilangan nyawa.
"Dipangku" merupakan kiasan tentang seseorang yang dirangkul, diberi tempat, diberi kedudukan, dipenuhi kebutuhannya, atau dibuat nyaman.
Sedangkan "mati" dapat dibaca sebagai hilangnya daya untuk melawan, menentang, atau bersuara keras. Dalam politik, pangkon paling efektif bernama kekuasaan.
Lawan tidak selalu harus dilawan. Pengkritik tidak selalu harus dibungkam.
Kadang-kadang ia cukup dirangkul, diberi kursi, diberi jabatan, lalu diletakkan dekat pusat kekuasaan.
Karena itu, pelantikan Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden, menarik dibaca melalui filosofi sederhana tersebut.
Rocky Gerung akhirnya berada di dalam kekuasaan yang selama bertahun-tahun menjadi sasaran kritiknya.
Jumat (2/10/2026), Presiden Prabowo Subianto melantiknya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
Halaman :
Warning: Undefined variable $max_pages in
/home/u604751480/domains/bitvonline.com/public_html/amp/detail.php on line
259